Adaptasi Pernikahan

Kategori: 
Topik: 
“Waah, ternyata dia begitu?”
“Dulu dia perhatian…”
“Dapatkah kami mengatasinya dan melaluinya?”

Kata-kata tersebut pastinya sudah tidak asing lagi di telinga mereka 
yang sudah memasuki kehidupan rumah tangga. Banyak yang berkata
bahwa setelah menikah setiap pasangan perlu melakukan adaptasi.
Mereka menemukan hal-hal baru atau yang mengejutkan, bahkan
pada mereka yang telah melalui proses penjajakan sekian tahun. 

Adaptasi pernikahan merupakan perubahan dan penyesuaian dalam
suatu hubungan selama komitmen atau kehidupan pernikahan
berlangsung (Atwater & Duffy, 1999). Adaptasi pernikahan juga
merupakan suatu proses yang berkepanjangan dalam rangka 
mendapatkan titik temu dari suatu isu perbedaan dan mengusahakan
cara hidup bersama (Landis, 1954). Spanier (1976) memandang
adaptasi pernikahan sebagai suatu adaptasi antara dua individu
(adaptasi diadik) dalam suatu kontinum. 

Adaptasi diadik ini memiliki empat komponen (Wilson & Filsinger, 1986), yaitu:
a. Kesepakatan dalam pernikahan (dyadic consensus), yaitu derajat
kesepahaman antara suami dan istri pada berbagai masalah dalam 
perkawinan, seperti keuangan keluarga, rekreasi, agama, filosofi hidup, 
dan tugas-tugas rumah tangga.

b. Kepuasan hubungan dalam pernikahan (dyadic satisfaction) yang dilihat
dari seberapa sering pasangan bertengkar, berciuman, saling membuka diri,
pernah tidaknya mempertimbangkan perpisahan, dan komitmen terhadap
kelanjutan hubungan.

c. Kedekatan hubungan (dyadic cohesion) yaitu derajat keakraban pasangan
yang dilihat dari frekuensi pasangan saling bertukar pikiran, mengerjakan 
kegiatan bersama, dan berbagi minat. 

d. Ekspresi afeksi atau kasih sayang (affectional expression), yaitu kesepakatan
pasangan mengenai cara-cara untuk menunjukkan kasih sayang dan memenuhi
kebutuhan seksual.

Pasangan dianggap memiliki kualitas penyesuaian pernikahan yang baik bila 
minimnya derajat perbedaan yang menimbulkan ketegangan antarpribadi,
memiliki rasa kedekatan yang kuat dan berbagi kebersamaan, 
dapat mengungkapkan afeksi yang saling disetujui pasangan, 
serta merasa puas dan berkomitmen terhadap hubungan pernikahan. 

Adaptasi pernikahan yang secara umum dihadapi pasangan 
(Strong, DeVault, & Cohen, 2008):
a. Mendiskusikan peran keluarga dan peran pernikahan yang diharapkan dari
    pasangan dan juga diri sendiri. 
b. Saling memberikan dukungan emosional dan afeksi kepada pasangan
c. Menyesuaikan kebiasaan pribadi
d. Menyesuaikan peran dan tanggung jawab gender untuk merefleksikan 
    kepribadian, keterampilan, minat dan kebutuhan pribadi.
e. Menunjukkan cinta kasih secara fisik, penyesuaian seksualitas
f. Membangun prioritas karir dan keluarga
g. Mengembangkan keterampilan komunikasi, berbagi ide dan perasaan lekat
    satu sama lain, mengutarakan masalah-masalah yang dihadapi, berbagi suka
    dan duka, membangun aturan berkomunikasi, dan belajar bagaimana 
    menegosiasikan perbedaan yang ada untuk memperkuat pernikahan
h. Mengatur masalah keuangan dan anggaran keluarga
i. Membangun dan mengatur batasan hubungan dengan keluarga besar
j. Berpartisipasi dalam masyarakat

Menurut Worthington (2005), salah seorang pakar psikologi pernikahan, 
pernikahan yang kuat dan berkualitas dapat terjadi ketika pasangan selalu
menumbuhkan dan memupuk cinta, memiliki keyakinan terhadap pasangannya
dan pernikahannya, dan selalu aktif berusaha keras mempertahankan pernikahannya. 

Cara-cara yang dapat dilakukan antara lain:
a. Membuat visi dan misi pernikahan yang jelas, bahkan lebih baik bila dapat 
    dijabarkan secara jelas dan berjangka waktu. Deskripsikan pula hal-hal yang
    dapat mendukung dan menghambat perwujudan visi-misi tersebut dan cara-cara
    yang mungkin untuk mengatasinya. Buat secara sendiri-sendiri, lalu didiskusikan
    bersama pasangan.

b. Kenali bahasa cinta Anda sendiri dan pasangan Anda. Bahasa cinta (ungkapan
    kasih sayang) menurut Gary Chapman secara umum terbagi lima, yaitu: kata-kata
    cinta, sentuhan dan kedekatan fisik, perilaku melayani, ketersediaan waktu yang
    berkualitas, dan hadiah. Jangan malu atau ragu untuk menanyakannya kepada
    pasangan atau memberitahukan bahasa cinta Anda kepada pasangan

c. Perbanyaklah berlaku positif kepada pasangan Anda. Jangan hanya menunggu
    atau mengharap pasangan Anda yang melakukannya kepada Anda.

d. Perbaiki atau tingkatkan komunikasi yang baik antara Anda dengan pasangan. 
    Hindari saling kritik, saling bersikap defensif (mempertahankan pendapat pribadi
    atau merasa paling baik pendapatnya), saling menyalahkan, dan tidak mau 
    memberi respon atau membatasi respon. Belajar mendengarkan atau 
    berkomunikasi dengan empati kepada pasangan. Temukan waktu yang tepat
    dan nyaman untuk membahas topik tertentu. Bila perlu, pelajari lebih jauh tentang
    komunikasi efektif dalam pernikahan.

e. Tingkatkan keintiman Anda dengan pasangan. Keintiman merupakan perasaan 
    bersatu atau berbagi pengalaman positif yang dialami bersama. Keintiman ini dapat
    terbagi tiga, yaitu secara fisik/seksual, secara emosional, dan secara spiritual. 
    Keintiman secara fisik/seksual misalnya kegiatan fisik yang menyenangkan untuk 
    dilakukan bersama seperti jalan-jalan bersama, mengerjakan pekerjaan rumah 
    tangga bersama, bergandengan tangan, aktivitas seksual tertentu yang disukai 
    pasangan, dll. Keintiman emosional misalnya dengan mendengarkan pasangan, 
    mendukung karir/aktivitas pasangan, berbagi pengalaman suka-duka dengan 
    pasangan, dll. Keintiman spiritual misalnya berdoa atau beribadah bersama, 
    berbagi pengalaman spiritual, dll.

Selamat mencoba :)


Sumber Acuan
Duffy, K.G. & Atwater, E. (2005). Psychology for living: Adjustment, growth, and behavior today
       (8th Ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc
Landis, P.H. (1954). Your marriage and family living (2nd ed.). New York: McGraw-Hill Book 
       Company, Inc.
Spanier, G.B. (1976). Measuring dyadic adjustment: New scales for assessing the quality of 
       marriage and similar dyads. Journal of Marriage and Family, Vol. 38, No. 1, 15-28. Diambil 
       27 Oktober 2010 dari www.jstor.org. 
Strong, B., DeVault, C. & Cohen, T.F. (2008). The marriage and family experience: Intimate 
       relationship in a changing society (10th Ed.). New York: Wadsworth Cengage Learning.
Wilson, M.R. & Filsinger, E.E. (Feb, 1986). Religiosity and marital adjustment: Multidimensional 
       interrelationships. Journal of Marriage and Family, Vol. 48,  No. 1, 147-151. Diambil 3 
       November 2010 dari http://www.jstor.org/stable/352238. 
Worthington Jr., E.L. (2005). Hope-focused marriage counseling: A guide to brief therapy. Illinois: 
       InterVersity Press.

Artikel terkait: 

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.