Pasangan Suka Bohong

Topik: 
Saya telah setengah tahun menjalin hubungan dengan 
pria 7 tahun lebih muda penyandang tuna rungu. Karena 
keterbatasan fisiknya, ia dibesarkan dengan pola asuh
over protective dan kerap kurang dihargai/dipercaya 
oleh orang tuanya. Akibatnya ia mengembangkan prilaku 
sering berbohong untuk mendapat pengakuan dan 
keinginannya.
 
Sebagai pasangannya, tentu ini merusak relasi karena 
ia sering berbohong jika mau pergi kemana karena 
berpikir sudah merasa akan dilarang. Akibatnya saya
jadi curiga dan tak tenang. Apalagi hubungan ini 
long distance dan saya pernah bercerai karena 
perselingkuhan.
 
Apakah hubungan ini layak dipertahankan mengingat 
kebiasaan bohongnya sudah mengakar dan kematangan 
emosinya sangat rendah? Saya telah memiliki seorang
anak, saya jadi takut menikah dengannya karena 
takut sering bertengkar di dalam pernikahan 
akibat tipisnya kepercayaan. Sekarang saya sudah 
tidak tahu perkataannya itu benar apa bohong 
dan seperti sudah mulai berkurang rasa cinta saya
padanya (ilfil). Apa yang harus saya lakukan?
 
R di kota T 
 
Jawaban kami: 
 
Malam bu R, terimakasih telah berbagi dengan kami.
 
Tidak ada orang yang ingin gagal dalam pernikahan, 
tentu saja. Akan tetapi, kegagalan dalam membina
sebuah rumah tangga dapat menjadi sebuah pelajaran
yang sangat berharga. Apabila kita bisa mengambil
pelajaran dari pengalaman tersebut dengan baik, sudah
banyak yg menjadi bukti dapat bahagia pada pernikahan
keduanya. 
 
Kami rasa dengan pengalaman ibu yang telah pernah 
menikah dan bercerai sebelumnya tentu sudah 
paham kualitas2 apa yang ibu butuhkan dari 
seorang lelaki dalam sebuah pernikahan. Apakah 
pada pasangan anda saat ini kualitas2 yg anda 
butuhkan ada? Apabila tidak dan anda ingin 
segera menemukan pasangan hidup, sebaiknya anda
timbang kembali kelanjutan hubungan anda saat ini. 
 
Tentu tak ada salahnya memberikan kesempatan pada
hubungan ini dgn membicarakan kondisi yang membuat
anda tidak nyaman ini dan lihat usahanya untuk 
berubah. Selanjutnya, pertimbangan ibu untuk 
memutuskan. Semoga membantu.
 
Salam,
 
Psikologi Kita
 
Kategori: