Trauma

Kategori: 
Topik: 

 “Gue trauma disakitin ama laki-laki, gue nggak mau pacaran dulu ah”

 
“ ibu X mengalami trauma setelah banjir besar yang terjadi beberapa hari lalu 
menewaskan 3 anggota keluarganya”
 
Kalimat-kalimat ini seringkali kita dengar dalam pembicaraan sehari-hari maupun
dalam pemberitaan berbagai media. Kata trauma ini biasanya digunakan untuk
menggambarkan reaksi yang dialami seseorang yang baru saja mengalami kejadian
seperti misalnya kebakaran, banjir, kecelakaan dan lain sebagainya. 
 
Sebenarnya apa sih trauma itu? Kapankah seseorang dikatakan mengalami trauma
dan perlu mendapatkan bantuan secara psikologis?
 
Secara objektif, seseorang dapat dikatakan mengalami kejadian yang dapat 
menimbulkan trauma (kejadian traumatis) jika mereka terpapar pada kejadian yang
melibatkan kematian, luka serius atau adanya ancaman terhadap fisik diri sendiri
maupun orang lain. Sedangkan secara subyektif, suatu kejadian menjadi 
pengalaman traumatis ketika seseorang berespon dengan perasaan takut, 
tidak berdaya atau kengerian (Allen, 2005).
 
Sangatlah wajar jika seseorang yang mengalami kejadian yang mengancam 
keselamatan dan nyawanya merasakan ketakutan atau reaksi stres. Akan tetapi, 
apakah setiap orang yang mengalami kejadian ini pasti mengalami trauma? 
Reaksi stres akibat kejadian yang mengancam keselamatan dan nyawa seseorang
dapat berkembang menjadi suatu gangguan secara psikologis. Di dalam ilmu psikologi
sendiri, gangguan yang terjadi sebagai akibat dari adanya pengalaman traumatis disebut
dengan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Terdapat sejumlah tanda-tanda dimana
seseorang mungkin mengalami PTSD, antara lain :
 
1. Mengalami kembali kejadian traumatis secara terus menerus dalam bentuk :
    a) Bayangan, pikiran dan ingatan kejadian secara terus menerus dan menyebabkan stres.
    b) Mimpi-mimpi mengenai kejadian secara berulang
    c) Ilusi / halusinasi terkait kejadian
    d) Merasa stres / muncul respon fisik (seperti misalnya berkeringat dingin, jantung
        berdegup kencang) saat mengingat, menemui hal-hal yang berkaitan atau
        melambangkan kejadian traumatis
2. Adanya upaya untuk menghindari pikiran, perasaan, percakapan, aktivitas, tempat atau 
    orang-orang) yang berkaitan dengan kejadian traumatis.
3. Tidak mampu untuk mengingat aspek-aspek penting dari kejadian traumatis
4. Kehilangan minat atau partisipasi dalam aktivitas-aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan
5. Adanya peningkatan rangsangan secara terus menerus (dimana hal ini tidak terjadi sebelum 
    kejadian traumatis), dalam bentuk :
    a) Sulit untuk tidur atau tidur secara berlebihan
    b) Menjadi mudah marah
    c) Sulit berkonsentrasi
    d) Menjadi lebih waspada secara berlebihan
    e) Sering merasa terkejut / kaget secara berlebihan
 
Selain mengalami sejumlah hal-hal diatas, biasanya seseorang yang mengalami PTSD 
kesehariannya dan aktivitas sosialnya juga menjadi terganggu. Ada baiknya menemui psikolog
apabila anda atau orang-orang di sekitar anda yang pernah mengalami kejadian traumatis 
menunjukkan sejumlah tanda-tanda diatas setelah agar mendapatkan penanganan yang tepat. 
Jadi, seseorang yang baru saja mengalami musibah atau bencana memang mengalami kejadian
traumatis, namun tidak dapat serta merta dikatakan mengalami trauma (PTSD). Semoga kita
semua dapat menjadi lebih bijak dalam mempergunakan kata trauma. 
 
 
Bahan bacaan :
Allen, J.G. (2005). Coping With Trauma: Hope Through Understanding (2nd ed). Washington DC:
American Psychiatric Publishing, Inc
 

Komentar

Saya telah menjalin hubungan selama 5 tahun namun hubungan kami putus begitu saja tanpa alasan dari si pria. Setelah putus saya agak takut untuk menjalin dan berdekatan dengan laki-laki. Apakah itu bisa disebut trauma?
Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Avatar Indah Damayanti

Halo Nisa... Secara subjektif ketakutan menjalin hubungan dengan laki-laki lain karena khawatir pengalaman sakit hati yang sama akan terulang dapat dikatakan sebagai trauma.
Nisa bisa mengatasinya dengan cara menantang rasa takut tsb dengan berpikir rasional. Misalnya,ketika baru berkenalan dengan seorang laki-laki dan Nisa sudah berpikir akan disakiti, Nisa bisa lawan pikiran tsb dengan mengatakan pada diri sendiri, "Bukankah ini baru berkenalan? Siapa tahu dia bisa jadi teman yang asyik" atau "Dia adalah individu yang berbeda dgn mantan, setiap orang memiliki kepribadian yg berbeda, tidak bisa disamakan begitu saja". Nisa juga bisa menanyakan pada diri sendiri FAKTA-nya,  "Apa yang sudah ia lakukan yang telah menyakiti saya?". Cara ini bisa melawan pikiran negatif/rasa takut Nisa yang tidak rasional dikarenakan ingatan akan sakit hati Nisa terhadap mantan.

Selamat mencoba! :)

Salam,
Psikologi Kita

Dulu waktu berpacaran saya pernah tau kalo pacar saya pernah telponan sama cowok laen selama 3 jam berturut, ga bermaksud selingkuh, karena memang itu keluarganya, bilang saja 2pupunya. Ternyata mereka merencanakan sesuatu untuk ngerjain saya, jadi yg laki sms ke saya bilang kalo pacar saya ini selingkuh sama dia, sebenernya pacar saya suka sama dia jadi mereka pacaran tanpa sepengetahuan saya. Saya sangat jatuh membaca sms itu, tapi keesokan harinya mereka berdua malah mengajak kerumah pacar saya, saya bilang "kamu pilih aku apa dia?" Lalu pacar saya bilang kalau ini semua hanya becanda, itu amat sangat menyakiti hati saya, kejadian itu terjadi 4 tahun lalu, dan sebulan lagi saya akan menikahinya, namun perasaan itu trus datang, tersiksa, tidak bisa fokus, menangis setiap malam, tapi saya memilih untuk tetap maju krn tidak bisa seterusnya saya seperti ini, tapi tidak bisa saya tahan, amat sangat menyiksa. Apa yg harus saya lakukan? Saya tidak mau nanti setelahenikah perasaan ini yg menghancurkan rumah tangga kita. Tolong :(

Saya baru meutuskan suami karena dia berselingkuh,tak lama saya belajar untuk membuka diri dalam bergaul karena selama ini saya tertutup dan hanya mengurus anak2.suatu hari saya bertemu seorang lelaki yang jauh dibawah saya umurnya (sekitar 15 tahun)saat itu dia meminta no hp saya.Lelaki itu trus mengontak saya,saya sendiri terkadang jenuh dn trus menghindar.sampai akhirnya kami melakukan pertemuan kedua.jujur awalnya saya tidak mau,tetapi ibu saya menyuruh supaya saya bs melupakan mantan suami saya.tp ternyata apa yg saya takutkan ternyata terjadi,dia memperkosa saya dengan alasan sebagai salah satu cara dia supaya saya mau dengannya.pada saat kejadian saya memohon dan berontak,dia sama sekali tak perduli.setelah kejadian itu saya kerumah sakit utk mencek takut ada penyakit dn kehamilan terjadi pd saya.seminggu kemudian lelaki itu menelpon saya,seperti tak merasa bersalah.saya berkata kasarpun dia perduli.saya tak melayaninya lg sampai akhirnya ada perempuan yg menelpon saya mengaku istrinya.saya minta maaf dn mengaku saya diperkosa oleh suaminya.saat itusaya benar2 tertekan,pristiwaitu terekamsetiap malam dn wajah lelakiitu setiap saat ada dihadapan saya.saya stress berat,tapi saya takut bercerita pada ibu saya

saya dan pacar saya yg sekarang awalnya kita teman main sampai akhirnya kita pacaran,kita sama2 mengalami trauma dalam berhubungan. saya selalu disakiti dalam hubungan begitupun dengan dia selalu disakiti dalam berhubungan. kita ber2 sama2 trauma,tetapi karna trauma itu dia jadi curigaan,emosional,dan selalu berfikir negatif ke saya. dia selalu menuduh saya,pernah kami bertengkar karna dia menanyakan tentang saya dengan masa lalu saya yg tidak pernah saya lakukan,saya bilang "tidak" karna memang tidak,sampai sumpah pun dia tidak percaya. dia bilamg dia punya bukti,tapi bukti itu tdk pernah saya liat. dan dia memaksa saya harus jujur,saya bingung saya sudah jujur. dia memaksa saya bilang "iya" padahal kenyataanya tidak. hati saya sakit,saya terpaksa bilang "iya" padahal sebenarnya tidak. dari situ dia selalu menganggap saya berbohong,dia selalu merasa bahwa saya membohongi dia. tidak ada niat sama sekali untuk berbohong. saya juga pernah trauma :) saya juga mau hubungan yg lebih baik :) tapi seoalah@ dia lupa akan itu. apakah ada saran supaya hubungan kita lebih baik. trims...

Saya punya masalah dengan mengatasi trauma (atau mungkin PTSD) bullying yang saya alami ketika saya berusia 8 tahun (sekarang usia saya 21 tahun). Saya mengalami hampir semua hal di atas, kecuali memimpikan bullying yang saya alami atau berhalusinasi tentangnya.

Saya:
1. Sulit tidur bertahun-tahun --> Saya selalu berpikir saya mengidap insomnia, karena baru bisa tidur sekitar jam 1 dan bangun lebih siang, kalau saya tidur lebih cepat, waktu bangunnya pun sama. Saya bisa tidur lebih lama di siang hari, tidak peduli saya tidur "cukup" atau tidak malam sebelumnya.

2. Lebih mudah marah --> bedanya, saya tidak melampiaskan pada manusia, tetapi pada barang, misalnya saya banting, pukul, lempar, dsb).

3. Sulit berkonsentrasi --> saya ingat hingga SMP saya masih bisa mengingat hal-hal kecil bahkan yang saya lakukan 2 minggu sebelumnya, tetapi sekarang kejadian yang saya katakan atau lakukan kemarin atau 2 hari lalu atau seminggu lalu belum tentu saya ingat semuanya. Orang-orang harus memberikan saya trigger-trigger dulu, dan biasanya trigger-nya LEBIH DARI SATU ATAU DUA, baru saya ingat semuanya.

4. Menjadi lebih waspada secara berlebihan --> saya sulit mempercayai orang lain, saya selalu merasa mendengar suara-suara di bawah yang selalu saya sangka maling, dan bisa bolak balik lantai 1-2 rumah sambil bawa sapu atau senjata apa saja yang ada sebanyak 4x dalam 1 jam. Saya juga menyangka semua orang membicarakan saya ketika ada percakapan atau event yang sengaja tidak melibatkan saya di dalamnya.

5. Sering merasa terkejut/kaget secaa berlebihan --> Ibu saya memandang ini tidak normal, saya selalu dimarahi karena ini. Saya selalu kaget setiap kali nama saya dipanggil dengan berteriak, disentuh, ditepuk pundaknya, disentuh pinggangnya, dll. Saya selalu terlonjak, badan saya tegap, tubuh dan kepala gemetar.

6. Kehilangan minat di aktivitas yang biasanya saya lakukan --> sudah lebih dari 5 tahun saya kehilangan minat membaca saya (anehnya, saya masih sering membeli buku dan koran, biasanya saya baca belakangan (bertahun-tahun sesudahnya, yang paling parah) atau tidak saya baca sama sekali), menulis cerita (ide saya sering mandeg bahkan sebelum saya mulai), merekam suara dan menulis skrip untuk rekaman suara saya (saya bercita-cita menjadi pengisi suara dan announcer, setahun lalu saya masih sering berlatih dengan komunitas dan rajin coba-coba sendiri di rumah, sekarang sudah sulit untuk menuangkan ide), bermain gitar (latihan saya terhenti 2 tahun penuh setelah Ayah saya meninggal apa saya juga trauma karena ini?).

Beberapa poin lainnya juga saya alami, tapi kepanjangan kalau saya jabarkan juga di sini, kasihan ibu-ibu psikolognya nanti. Tambahan, saya sering menangis ketika saya melihat atau membaca tentang korban bullying anak-anak, apalagi jika mereka sampai meninggal. 13 tahun yang lalu saya sering terpikir untuk bunuh diri karena tidak punya teman, orang tua saya pun nyaris bercerai di hadapan saya.

Saya juga mahasiswa psikologi, tapi selama 3 tahun saya semakin merasa belajar psikologi membuka hal-hal yang tidak ingin saya ingat atau sentuh lagi. Ini berkaitan dengan aspek-aspek lain, tidak membantu meringankan beban saya sama sekali. Mungkin saya akan ceritakan nanti setelah ibu-ibu psikolog menjawab pertanyaan saya yang satu ini:
"Kehidupan sosial saya, saya katakan, sudah rusak. Saya ingin kembalikan semuanya meskipun risikonya badan dan pikiran saya harus merasa capek dulu. Saya ingin menghilangkan simtom-simtom ini, saya tidak mau menyalahkan orang lain atas apa yang telah saya alami. Tolong bimbing saya, saya sadar efek trauma ini akan berlangsung seumur hidup, karena sampai detik ini, saya belum bisa memaafkan orang-orang yang telah menyakiti saya secara psikis."

Terima kasih.

assalamualaikum
adik saya waktu kecil pernah dipatok dan dikejar sama ayam sampai jatuh. dr kejadian itu sampai detik ini dia takut dengan ayam. sampai melihat gambar ayam pun dia menghindar.
dr fenomena itu, apakah adik saya itu masuk kriteria masalah trauma atau sudah masuk ke gangguan pobia?
ditunggu feedbacknya...terima kasih

aku dulu mengalami kejadian yang sangat menyakitkan
aku punya pacar dia menghampiriku
lalu dia meninggalkan aku dan pergi sama cwe itu selingkuhannya
aku mengandung dari 0 bln sanpe 9 bln sendiri tanpa saudara keluarga ataupun orang tua , aku hanya sendiri , hidup sendiri kerja keras meski badan berisi dua , tanpa lelah menjalani nya
bahkan ketika aku mau melahirkan aku sendiri cuma di bantu dokter dan bidan , dan orang tua ku pun tidak tau aku hamil dan melahirkan karna aku kerja jauh jauh dari rumah menutupi kandungan ku karna aku tidak mau mempermalukan keluargaku
aku berjuang melahirkan anaku sendiri di rumah sakit tanpa sanak keluarga , dan kini setelah lamanya berlalu aku masih trauma buat dekat dengan lelaki tapi terkadang aku berpikir aku butuh lelaki aku mencoba tuk membuang rasa traumaku aku mencoba dekat dengan lelaki agar aku bisa terbiasa seperti dulu
tapi tetap saja tidak ada bedanya setelah aku bertemu dengan mereka aku mendadak ilfel dan tidak mau dekat lagi dengan dia
saya terkadang merasa terpuruk menangis depresi mengapa semua terjadi kepada saya

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.