Hubungan Mertua - Menantu

Topik: 

Saya seorang istri dan ibu, suami saya baik dan sangat pengertian, anak (umur 8) sehat dan pintar. Secara ekonomi, kami berkecukupan tanpa berlebihan, suami dan saya bekerja, saya bekerja part-time sesuai hobby sehingga cukup banyak waktu luang. Sementara kami bekerja, perawatan anak dibantu oleh kedua mertua, dimana kami masih serumah. Dalam pergaulan saya merasa senang punya teman cukup banyak dengan latar belakang berbeda2, menikmati waktu berinteraksi dengan mereka. Semua di kehidupan saya baik-baik saja menurut semua orang, bahkan tidak sedikit teman yg mengaku iri melihat kehidupan saya yg sangat ideal.

Ideal kecuali untuk saya. Ternyata saya ada masalah dengan sifat introvert, dimana saya lebih nyaman sendirian daripada bersama orang lain. Seringkali saya merasa sesak berada bersama keluarga, bahkan saat bersama anak dan suami sekalipun. Saya merasa terlalu 'diganduli' keluarga, terlalu ribut di rumah, kurang punya waktu untuk diri sendiri, dan jenuh harus selalu memberi perhatian kepada keluarga. Saya merasa semua anggota keluarga saya kurang mandiri, selalu harus dilayani hal2 kecil dan mertua juga selalu ribut menyuruh saya melayani suami. Mertua seringkali tidak konsisten, hal2 yg dikatakan seringkali tidak sejalan dengan yg dilakukan, sehingga sering saya
merasa 'eneg' dengan sikap munafik itu. Selain itu, di keluarga masih berlaku adat jawa, dimana yg muda harus selalu 'iya' dan sopan pada orangtua, sehingga saya sangat sungkan melakukan protes atas sikap mertua tersebut secara terang2an.

Saya selalu berusaha menyelesaikan tugas dan kewajiban saya tanpa mengeluh ataupun minta bantuan sebisanya, dan saya sebenarnya berharap anggota keluarga yg lain juga bisa berbuat demikian. Setidaknya anggota keluarga yg dewasa; anak saya ajari untuk mandiri, tapi sejauh ini belum cukup berhasil karena dia sering dilayani mertua saat saya bekerja sehingga kebiasaannya belum konsisten. Saya tidak keberatan membantu dan melayani, tapi saya amat sangat tidak suka bila harus selalu melayani. Keluhan dan protes kemungkinan besar ditanggapi dengan negatif dan malah berbuntut panjang, sehingga seringkali saya lebih baik diam selama masih bisa diatasi sendiri.

Biasanya saya mampu cuek, menjalani apa adanya, tapi ada saat2 dimana saya 'break down' karena hal ini. Saya tidak bisa curhat ke siapapun, termasuk suami, karena saya tidak yakin hal aneh ini bisa dimengerti. Standar umum : keluarga, anak dan suami adalah segalanya, adalah nomor satu; sementara saya diam2 punya standar lain yg lebih
egois : kebebasan saya adalah segalanya buat saya. Saya sungguh bersyukur dianugerahi segalanya yg amat baik, tapi entah kenapa saya merasa hidup seperti ini bukan buat saya. Hingga saat ini saya cuma menghibur diri dengan rencana bertahan sekitar 12 tahun lagi, saat anak sudah cukup dewasa, saya ingin pergi jauh2 sendirian dan jarang pulang. Entah bisa entah tidak. Mudah2an bisa bertahan waras sampai saat itu tiba, karena waktu2 'break down' sepertinya makin sering sehingga membuat lelah
sendiri sampai sakit kepala berhari2.

Adakah saran apa yg bisa saya lakukan agar bisa berdamai dengan diri sendiri? Atau memang harus sabar menunggu 12 tahun lagi ya? :)

-T, 36 tahun-


========================================================================================

Dear Mbak T,

Situasi yang Mbak hadapi umum dialami oleh pasangan-pasangan lain yang masih tinggal dengan orang tua, dimana kita dituntut untuk beradaptasi tidak hanya dengan keluarga inti kita sendiri, namun juga dengan keluarga besar.

Sebenarnya wajar bila Mbak merasa tidak mempunyai 'me-time',karena tuntutan peran sebagai istri, ibu sekaligus menantu. Mbak sebenarnya berhak atas hal ini, hanya saja Mbak perlu mengkomunikasikannya.

Untuk jangka panjang sebenarnya ada baiknya Mbak bisa menyuarakan pendapat secara asertif, memperjuangkan hak pribadi tanpa menyakiti orang lain. Terlalu memikirkan apa pendapat orang juga bisa tidak sehat untuk Mbak sendiri. Jadi ada saatnya kita boleh 'egois' dengan cara yang dapat diterima, tentunya. Misalnya izin ke suami untuk pergi sendirian, sekedar ke salon atau berbelanja untuk refreshing agar Mbak punya tenaga lagi keesokan harinya. Berdiskusi dan terbuka mengenai hal ini sebenarnya juga perlu dilakukan. Bila mbak bisa menyampaikannya secara terus terang namun tetap sopan dan menghargai suami dan mertua, saya rasa suami dapat membantu mbak agar tetap dapat bertahan ataupun memberi solusi yang baik.

Selain itu apakah mbak dan suami memang berencana untuk tinggal selamanya dengan mertua? Karena memang akan lebih sulit membangun rumah tangga mandiri yang sesuai dengan standard pribadi bila masih tinggal dengan orang tua. Bila memang belum berencana keluar dr rumah orang tua, maka memang Mbak yang perlu banyak beradaptasi karena kita sulit mengharapkan perubahan dari diri orang lain.

Semoga membantu.

Salam,

Psikologi Kita

Kategori: 

Komentar

saya menikah sudah 10 bulan, sebelum menikah saya sudah meminta suami untuk mengontrak sendiri jika sudah menikah nanti, tetapi ayah mertua saya sakit stroke, dan ibu mertua saya sakit jantung, sedangkan suami saya adalah anak pertama yang sekaligus penopang keluargasaya memilih keluar dari pekerjaan di sekolah tempat saya mengajar karena suami saya adalah teman kerja (kebijakan yayasan) sekaligus pencari nafkah utama. tetapi masalahnya setelah saya menikah, bahkan sejak belum genap 1 bulan menikah saya merasakan bahwa ibu mertua saya tidak mau menegur saya jika salah, dan membenarkannya. saya mencoba membantu masak, tetapi selalu bingung karena saya memasak seperti ini salah, itu juga salah, istilahnya gak pernah cocok dengan cara masak saya, maklum saya tidak pernah memasak yang 'njelimet' sejak kecil. lalu saya mengambil kesimpulan, saya membantu mengerjakan pekerjaan lain. tetapi malah dibilang "gak bisa tandang gawe" atau dalam bahasa indonesia gak bisa mengerjakan pekerjaan rumahsaya masih mencoba mengambil hati dengan mendekati ibu mertua, mijeti, sambil mendengar ibu mertua saya bercerita,, tapi toh jika saya lakukan setiap hari, pekerjaan lain saya akan terbegkalai karena sehari-hari melangkan waktu mijet dan mendengar keluhan serta gosip yang beliau ceritakan (sejujurnya saya tidak suka bergosip, dan lebih suka diam jika mendengar cerita seperti itu) kadang beliau sulit didekati, selalu diam, disiapkan ini itu gak mau, dibantu ini itu juga gak mau, akhirnya saya diam. lalu setelahnya beliau menghindar, saya kedapur mau membantu, beliau pergi, saya di ruang keluarga, beliau masuk kamar, saya ke kamar, beliau keluar kamar. beliau terbuka untuk anak-anaknya dan teman anak-anaknya, anehnya untuk saya bahkan menegur menanyakan kabar orang tua saya saja tidak pernah....saya mengajak suami untuk keluar dari rumah, tetapi kami terkendala restu ibu mertua. karena beliau menyiapkan lahan di dekat rumah untuk rumah kami kelak, sejujurnya saya tidak suka itu, karena pasti kalo ada apa-apa bisa runyam juga urusannya, kontrak pun tidak diijinkan, apalagi punya rumah diluar rumah yang sudah disiapkan, belum lagi ayah mertua yang sakittapi saya sudah tidak tahan dengan sikap didiamkan seperti ini, tanpa tahu salah atau benar, saya sudah tidak tahan dengan semuanya, bahkan saya tidak "krasan" selama ini, ingin melarikan diri, tapi masih ingat suami, bahkan saking stressnya sudah 2 kali saya kegugurantolong bantu saya mencari solusi maslah initerimakasih sebelumnya

Avatar Nurindah Fitria

Dear A,
Terima kasih sudah berbagi dengan kami,.

Cukup pelik juga masalah yang anda Hadapi. Pertanyaan pertama kami, bagaimana sikap mertua mertua Anda sebelum Anda menikah dengan suami? Begitu pula sikap nya saat proses pernikahan? Jika memang ada ketidaksukaan mertua maka hal ini perlu diluruskan dahulu. Bisa jadi sikap mertua Anda karena ia kagek tiba2 memiliki menantu. Jika memungkinkan bahaslah ini dengan suami Anda. Memang ini menyangkut ibu suami, tetapi siapa lagi yang bisa Anda ajak diskusi Selain suami Anda. Dan tentunya suami Anda lah yang paling tahu Tentang mertua Anda karena beliau adalah ibu nya. Bahas dalam situasi yang kondusif, tenang, dan santai, agar suami tidak merasa diserang.

Semoga solusinya bisa segera didapatkan ya.

Salam,
Psikologi Kita

Sudah setahun saya menikah. Dari awal tinggal dengan mertua karena janda dan suami anak tunggal. Suami saya sebenarnya baik. Tp ibu mertua bny mengatur, terutama utk pekerjaan rumah yg membuat saya tertekan tinggal di rumah.

Makin hari saya makin tertekan karena mertua mudah komentar. Suami tau itu, namun dia hanya menyuruh sabar dan sabar.

Saya tidak ada teman curhat di sini. Jadi sesekali ingin curhat tentang perasaan saya. Itupun dua minggu sekali belum tentu karena hawatir suami jadi kepikiran. Namun saat sesekali curhat, suami seringnya marah dan merasa saya terlalu sering meributkan sikap ibunya. Padahal sy sdh berusaha bicara sebaik mungkin.

Saya juga kesal karena di belakang, mertua menggosipkan yg jelek ke tetangga. Kebetulan saya tak sengaja mendengar sendiri.

Saya hanya ingin hubungan dengan mertua baik karena bagaimanapun dia yg melahirkan pria yg sangat saya cintai. Dan hubungan kami akan mudah jika mertua tidak banyak mengkritik urusan saya.

Saya mengadu kalau bukan ke suami ke siapa lg. Harapannya agak ketemu solusi supaya mertua tidak banyak kritik. Dia malah bilang jika tidak betah di rumah, saya di suruh tinggal di rumah orang tua saya.

Saya tahu kalau suami sangat menyayangi saya dan tidak bisa jauh. Tapi sikap mertua membuat saya tertekan. Imbasnya saya curhat ke suami dan suami jadi kesal yang membuat hubungan kami jadi renggang.

Sementara kalau saya hanya diam dan sabar, saya makin merasa buntu. Mohon masukannya. Terimakasih

Avatar Nurindah Fitria

Dear Lena,

Bagaimana jikalau Lena mengubah cara berhubungan dengan ibu mertua. Mengingat beliau adalah satu-satunya keluarga suami, dan suami adalah buah hatinya satu-satunya, harusnya Lena dapat lebih mudah untuk menjalin hubungan dengannya. Bukan dengan mengeluhkan apa yang tidak ia sukai, cobalah untuk mendekati mertua dan banyak menanyakan kepadanya mengenai kebiasaan suami. BIsa jadi sikap mertua selama ini karena ia kaget anaknya semata wayang ada yang mengurus dan ia merasa tidak lagi dibutuhkan. Libatkan ibu mertua dalam beberapa hal yang bisa membuatnya senang. Misalnya, Lena bisa menanyakan beberapa cara membuat makanan kesukaan suami. Kemudian meminta mertua menceritakan tentang suami semasa kecil. Yang penting jadikan mertua sahabat, bukan sebagai musuh dalam persaingan.

 

Saya sudah menikah selama 15 bulan dan belum punya anak, skrg tinggal di rmh ibu saya yang kosong di Jkt. Saya merasa berat hati karena harus menanggung finansial keluarga. Gaji suami di bawah UMR jakarta sedangkan saya sekitar 8 juta, saat menikah msh 6 juta dengan cicilan tanah dan mobil sejak saya single. Namun setahun terakhir saya menggunakan kartu kredit dan terbantu untuk membeli keperluan sehari2. namun suami seperti lepas tangan kalau saat ada tagihan apapun, padahal saya setiap belanja baik dengan kartu kredit maupun tunai, selalu mengkomunikasikan kepadanya.saya kadang berpikir suami saya ini dididik terlalu lembek oleh kluarganya shg kurang gigih mencari nafkah, walaupun gajinya semua diserahkan ke saya, shg sampai saat ini pun, belum ada perusahaan lain yang dia coba untuk apply.Ditambah lagi,kk ipar (di luar negeri dan punya anak 3 msh kecil2) yg dulu pernah ditumpanginya selama 2 thn, juga terlalu berlebihan memberikan perhatian. Pasti menelepon minimal seminggu skali dengan durasi lebih dari 30mnt. Saya tidak terbiasa dgn hal tsb shg sring risih dan menimbulkan prasangka buruk bahwa kk ipar saya sperti mau tau aja khidupan RT kami. Suami slalu nurut sm dia shg diminta untuk menengok ibu mertua (harus) stiap 2 minggu sekali ke Cianjur, ya suami penuhi. itu pun menggunakan mobil saya, dan bensin untuk bolakbalik adalah 300rb per bln.Ibunya yang sudah menjanda hampir 2thn (dan pernah stroke 5thn lalu) juga sama saja mengesalkan, wajahnya kadang keliatan bete tanpa sebab kalau sdg maen ke rmh.kadang tiba2 nangis. mungkin jg krn byk pikiran krn saat ini tinggal seatap dgn kk ipar perempuan yang satu lagi dengan 3 org anak dan belum mapan. Ponakan dari kk ipar ini juga bandel ikut geng motor dan pernah tdk naik kelas tahun lalu saat SMA kls 1 dan pindah sekolah jg. Saya terkaget-kaget melihat kondisi keluarganya yg trnyata berlatar beakang pendidikan agama yang jauh skali dengan kluarga saya. Klo kk ipar perempuan yang di luar negeri masih mending, mapan dan agamis, namun jd org yg slalu didengar dan dituruti krn mertua mendapatkan bulanan skitar 2juta.Dan baru2 ini, suami malahan ngajakin beli rumah, ya saya bilang, kan harusnya papa yg usaha keras nyari rmh buat saya dan anak2 qt kelak. Saya jd smakin merasa kalau suami saya ini sudah kadung keenakan atau apa y. Suami jg kadang2 lucu memaksakan saya belanja ssuatu bwt ibunya. Pdhl dia tau uang gajinya saja tdk cukup untuk mkn kami, jd saya hrs pake kartu kredit lg dan saya tanggungjwb sndiri cari uang sanasini, krn pnah saya minta dibayarin eh malah jd ribut. Yang ingin saya tanyakan :1. Apakah wajar bila anak laki2 terakhir manja dan melempem seperti ini? bagaimana agar dia sadar tanggungjawabnya sbg suami?2. Apakah saya boleh memberikan uang penghasilan saya ke ibu saya (yang janda) scara diam2 dan jg ke kk perempuan yg blm mapan? krn klo saya terus terang, suami minta hal yg sama untuk ibunya dan kk ipar. Saya lucu aja, uang saya tp dipaksa adil..klo ga saya turuti, saya dibilang hitung2an dan suami pasti manyun.3. Apakah pernikahan saya ini tdk sehat krn saya sering memendam sndiri dan saya mengira ini takdir, tp saya sperti sudah tidak sabar lg dan mau ikhlas dengan keadaan spertinya berat skali.4. Apakah saya perlu kasih tau ke mertua dan kk ipar bahwa gaji suami sekian. karena slama ini saya tdk pernah brani sebut nominalnya. Agar mreka tdk prasangka buruk thd saya krn saya hampir tdk pernah bawa oleh2 berarti.. apalagi di kluarganya terbiasa memberikan kado saat berulang tahun. Dan kadonya jg ga mau barang murahan, minimal 150rb.Thanks ya sudah boleh curhat.Salaam    

Saya sudah lama menikah tetapi entah kenapa kalau saya diajak kerumah mertua,sya justu ga mau kesana karena setiap kali saya kesana anak saya selalu sakit ,saya harus bagaimana•

Saya menika 2 tahun dan dikarunii seorang anak skrg umurnya 9 bulan, intinya saya ingin tanya, kenapa suami saya suka diam2 kirim uang dan sgala msalah diceritakan ke mertua saya, slain itu smua kluarga suami saya suka menjelek2kan saya, apa2 slalu mertua saya yg diutamakan. Padahal saya Τϊđακ pernah melarang suami saya berbakti dgn org tua, cuma yg sya minta itu kejujuran dan keterbukaan sbgai suami istri. Tapi suami saya slalu membohongi saya dengan banyak alasan. Please mbak mba psiko beri masukan ke saya, karna akhirnya apapun yg suami saya katakan sya jadi Τϊđακ percaya karna sya sering dibohongi

Maaf bantu jawab. .
Lebih baik mbak novi tan, tinggal kan saja dulu suami, jgn d beri tahu keberadaan mbak bila dia terus telpn selama 4 hari jgn dulu di angkat wlpn dia sms berbicara kasar sekali pun ☺
Tinggal kan dia u/ memberi pelajaran
kalo menurut pendapat say seperti itu.
jika dia ingin mbak kembali sama dia, suami mbak harus berjanji ( dalam surat di atas matrai ) bhwa dia tidak akan mengulangi hal2 yg tidak mbak suka, bila dia mengulangi hal buruk itu lagi siap berpisah, anak tetap dgn mbak novi selamanya tidak bisa dia ( suami ) mbak temui, dan smua yg di miliki saat hidup bersama ( harta gono gini ) milik mbak.
dan harus membayar denda sesuai yg mbak ingin kn
insyaallah dia ( suami ) mbak akn menyadari dan tidak akan mengulang.
itu yg salah 1 kel. Saya lakukan.

sebentar lagi saya akan menikah, tapi bayang2 ketakutan tinggal dirumah mertua selalu menghantui saya, calon suami mengajak saya tinggal drumah org tua nya setelah menikah nanti,semakin dekat dgn pernikahn saya semakin takut membayangkan tinggal bersama mertua, sebenarnya mertua saya baik tapi sedikit aga pelit dan perhitungan, sedangkan saya orang yang royal, tolong kasih solosi agar kegelisan saya menjelang pernikahan saya menjadi berkurang ... Terima kasih..

Saya membina rumah tangga sudah 15th mempunyai 3anak,laki2dan2perempuan sejak menikah. Th2000 sampai sekarang mertua saya sama sekali tidak ada respon yg positif terhadap saya dari dulu sampai hari ini omongannya selalu nyakitin hati saya padahal saya sebagai menantu sayasudah berbuat seperti menentu lainnya kadang saya berfikir kok ada mertua yg seperti itu diluar nalar pemikiran saya,yg saya tahu meskipun mertua ndak suka terhadap menantunya tapi masih ada sikap yg baik terhadap menantu tapi mertua saya apapun yg saya lakukan selalu salah dimatanya apalagi kalau ada omongan darianak perempuannya,4th saya tinggal bersama mertua terus saya beli rumah sendiri dan pindah itupun masih kurang begitu suka,apa mungkin saya dari keluarga miskin jadi tidak sepadan derajadnya kalau memaki saya kamu kesini ndak bawa apa2 yg kaya anaku seperti itu perkataannya itipun ndak seberapa banya perkataanya yg lebih menyakitkan dan sangat membekas dihati sampai hari ini padahal segala kebutuhannya saya semua yg tanggung,sampai sakit masuk rumah sakit berkali kali sayapun yg tanggung biayanya sendiri sedangkan anak yg lain ndak mau tahu,itupun saya masih salah jadi sekarang saya bersikap ya sudahlah kalau memang ndak suka sama saya ya sudah,jadi kalau ngasih uang suamiku yg pergi sendiri jadi saya sekarang nsak pernah ke rumah mertua saya,nanti jika idul fitri saya kesana sebagai mana mestinya seorang anak dihari raya yg fitri tapi kalau kedatangan saya tidak diinginkan lalu saya di usir ya saya akan pulang kalau suamiku masih mau disitu ya saya pulang sendiri sama anak2 jadi saya ndak ambil pusing sekarang karena saya sudah capek dan lelah dg semua perlakuannya terhadap saya,saya mau tanya apa sikap saya ini betul..dan saya harus bagaimana menyikapi semua ini,mertua saya,saudaranya dan suami saya?

Bgni buk.sdah hmpir 2thun tigl sma mrtua awalny baik" aj.sbulan kmudian bru timbul mslh mulai soal mmsak/pkrjaan rmh.Pdhal sya sring mmbantu.tp di dpn org luar sllu mnjlek"an sya smpai skrg.sya mrsa mrtua tidk mnyukai sya.sya mrsa jd org asing krna tidk prnh di ajk ngbrol.sya jdi tidk btah tigl sma mrtua,sya ajk suami kluar dr rmh stu/cri kontrakan tpi blum ad respon.

pernikahan saya hampir 1 thun dan sudah d karuniai ank yang sekarang umur 2 blan..sya tinggal dngan ortu,dlu stiap minggu sya maen k rmah mrtua dan tidak ada maslah smpai hmil 7 bulan dan sya tdak prnah k sna lagi krna bidan melarang untuk berkndaraan,stlah melahirkan ank q berkelamin perempuan inilah awal2 kbencian sya..ibu mrtua maen k rmah krna mertua tdak punya ank prmpuan maka jelas ia menyayangi cucunya(ank ku) saat itu q sdang mengganti po2k ank q lalu mertua berkata "jangan keras2 nduk" pdahal saat sya tau dia mengganti po2k mlah sngat keras..hri berikutnya mertua maen k rmah lagi stiap q menyusui mertua slalu memaksa mlepaskan susuanku untuk beliau gendong ank menangis trs karna msih lpar tetapi mertua tidak menghiraukan tangisanya dan trs menggendongnya stlah beliau plang ibuku blang kalau mrtua bnyak kekeliruan saat menggendong stlah selapan q dan suami menginap k rmah mertua slama sminggu d rmahnya di sna sya tidak btah krna ank sya slalu menangis dan mrtua tidak lngsung memberikan ank q kpda ku sya smakin benci dan ksian mlihat sya dan pda suatu ktika sya mlihat ank sya di su2.i mertua saya yang tua saat mlihat itu saya sya sangat skit hti brcampur jijik dan benci tpi prasaan ini sya pndam suami tau bhwa ank sering di susui ibunya dia hnya diam sja smakin lma sya tdak betah krna sya mrasa mertua menjauhkan sya dngan ank sya sya tau beliau menyayangi ank sya tpi dia tdk menghiraukan gizi asi untuk ank sya..malahan mertua menyarankan untuk memberikan susu formula pdahal bidan menyuruh untuk tetap minum asi entah bgaimana pkiran mertua apa krna pndidikanya sampai MI/SD sja shingga berpengetahuan saya sngat jengkel sehingga sya curhat kpda suami tpi suami hanya blang sbar tnpa menegur ibunya smkin lma q tidak than q keluarkan uneg2 q kpda suami tpi dia tdk mengerti bhwa ibunya slah smkin lma cra bicaranya sma sprti ibunya..saat d rmah ortu kndungku aku mengadukan kpda ibuku krna tidak tahan kta ibuku jika ini brlangsung lama akan membuat hbunganku dngan suami menjadi renggang di dlm hati q berpikir kalau saat di rumah ortuku dia slalu di enk.an pkai handuk baru orang tua q memanggilnya dengan kata sopan jawa "pn",tpi saat istri (aku) d rmah mertua di beri handuk yang tidak layak jika d rumahku sdah di jadikan serbet cara memanggilku pun kasar yaitu "Awakmu,koen" sprtinya q tidak di hargai di sana

Sereyot rmh sendiri lbh damai dari pada bareng mertua sekali ada cacat smua kebaikan g bkal kliatan

Saya sudah 10 tahun menikah dengan suami. Saya hanya tamatan SMA. Sementara suami saya bekerja sbg PNS. Awal kami menikah bagai neraka bagi saya. Suami saya kredit motor untuk orang tuanya dan menyisakan uang gaji hanya 300rb perbulan. Saya sebenarnya tdk setuju suami ambil kredit itu tapi bapak mertua saya ngotot pengen punya motor terpaksa saya menyetujuinya. Jangan tanya bagaimana menderitanya kehidupan kami dgn uang 300rb sebulan. Bahkan untuk makan saja kami sering tdk bisa. Bahkan pernah suami 3 bln tdk bayar kredit banknya karna kami sangat kekurangan saat itu,akhirnya nama suami saya pun masuk dalam buku hitam di bank. Hampir setiap minggu ibu mertua saya nelpon suami saya, ibu mertua meminta dibangunkan rumah alasannya rumahnya sdh jelek. Agak sedikit memaksa. Beliau juga selalu meminta uang setiap bulannya,jumlahnya juga gede. Saya tak habis fikir,mengapa mereka tega menyiksa keuangan anaknya sendiri,pdhl mereka tahu anaknya sdh punya istri yg sedang hamil yg membutuhkan banyak gizi. akhirnya kesabaran saya habis,dalam keadaan hamil saya pulang ke kampung halaman saya.ke rumah org tua saya. Saya sangat sedih saat itu. Menyesali mengapa suami saya tak bisa membuat keputusan sendiri dalam hidupnya,mengapa dia tdk pernh memikirkan bagaimana menafkahi saya.mengapa andil mertua saya sangat besar di kehidupan kami.Saya terus berdoa supaya suami saya berubah. Alhamdulillah suami saya menyuruh saya balik ke dia disaat kehamilan saya menginjak 7bulan. Alhamdulillah stelah bbrp bln balik suami saya gajinya naik. Cukuplah untuk kami saat itu. Kehidupan mulai membaik walaupun masih tak cukup untuk membayar sewa rumah 11juta pertahun. Dan mertua masih saja menelpon minta dibangunkan rumah dan beli mobil. Padahal kami saat itu hnya punya motor pemberian ayah saya. Emas kamwin saya pun dijual untuk membaya sewa rumah. Lahirlah anak kami yg pertama,tentunya membutuhkan banyak biaya. Lalu krn mertua saya terus mendesak suami untuk bangun rumah,suami saya pun luluh. Dia mengambil kredit selama 5 tahun untuk membangun rumah org tuanya. Saya menentang habis  RShabisan tapi suami tetap ngotot. Apa boleh buat, saya pun terpaksa menyetujui krna posisi sy hny ibu rumah tangga. Semakin babak belurlah kehidupan ekonomi keluarga kami, anak sakit gak bs kedokter. Anak kami hmpir tiap bln sakit saat itu. Dan ibu saya bnyak membantu keuangan kami saat itu.saat anak kami masuk RS ibu saya juga yg mmbyr RS. Padahal ibu saya Janda tanpa penghasilan(hanya uang pensiun). Ditengah kehiduoan kami yg goyang saat itu, inu mertua saya masih sering menelpon minta dibelikan mobil. Bingung saya dengan mereka. Pdhl sudah dibangunkan rumah yg kreditnya belum lunas eh malah minta mobil lg. Saat itulah amarah saya meledak. Keluarlah semua amarah terpendam.sy blg kesuami saya capek ngalah terus dan suami saya mengambil keputusan untuk tdk membelikan mobil pd ortunya. Saya pun lega. Mulai lg adiknya mau menikah dan minta dibuatkan pesta,ibu mertua saya minta suami sy yg menanggung biaya pesta itu. Suami sy pun menyanggupi. Sy sedih saat itu. Bertahun tahun saya ingin beli ini itu tdk bisa. Mau beli bedak saja tdk bs apalagi yg lain lain tp mertua tetap saja menyusahkan kami. Duit pesta pun utang dr temannya. Akhirnya sya mencoba ngobrol baik baik dengan mertua tentangbekonomi keluarga kami yg diambang kehancuran. Tp mereka seperti tdk peduli.Bapak mertua saya tdk bekerja, kerjaannya hanya memancing ikan diempang setiap hari pdhl dia punya bnyk keahlian mesin. Yg mencari uang untuk makan malah ibu mertua saya setiap hari sebagai petani. Bpk mertua saya juga banyak pengennya, minta mobil minta mesin sumur bor. Ckckcck. Kalau anaknya kaya banget sih saya gak masalah,nah ini anaknya saja pas pasan malah kurang.Nah akhirnya kredit 5thn untk bngun rumah mertua lunas. Sy minta kesuami supaya kami beli rumah krn anak saya sdh besar saat itu. Suami saya pun menyetujui. Dia membeli rmh didekat rmh ortunya, saya tdk setuju krn saya memikirkan kalau dekat malah tambah ribet. Sedangkan selama ini jauh saja(beda kota) suka ribet minta ini itu terus mereka. Tp suami tetap ngotot. Terpaksa ngalah lg. Dengan syarat rmh kami disewakan supaya ada penghasilan tambahan untuk kami.krn saat itu kami dijakarta sewa rumah. Niatnya uangnya untuk biaya sewa rumah dijakarta.suami menyetujui. Eh selang bbrp bln ibu mertua minta tinggal dirumah kami, aneh kan? Pdhal mertua sdh kami bangunkan rumah 3 kamar. Saya menentang. Tp suami ngotot lg, dan saya ngalah lg. Akhirnya mertua tinggal dirumah kami. Gak sampe disitu sjaa. Mertua minta dibelikan semua perabotannya. Duh mkn kesel saja. Rumah mertua yg kami bangun dulu adik ipar saya yg tinggal disitu. Saat itu saya sdg hamil anak kedua.lama ya jarak dgn abangnya krn ekonomi. Tiba tiba bagai disambar petir mertua saya bilang rumah mertua yg kami bangun dulu sudah mereka jual untuk beli mobil. Ya allah sakit sekali hati saya saat itu bahkan hampir tiap hari saya menangis, saya sdh gak tahan lg. Mereka tak memikirkan saya sama sekali. Akhirnya adik adik ipar saya tinggal bareng mertua saya dirumah kami. Mobil yg mertua beli pun lenyap entah kemana. Aneh entah bagaimana pola pikir mereka. Mereka sangat jarang melihat kami dijakarta padahal jakrta bogor dekat sekali. Kami yg selalu ke bogor. Saat anak saya sakit pun mereka tak pernah mau datang membantu saya. Saya dirumah mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri ,ketidakmampuan suami membuat saya harus seperti layaknya pembantu dirumah. Jujur, bahkan suami tak oernah memberi saya uang untuk kesalon,untuk beli baju. 100rb perbulan pun tk bisa dia beri untuk saya sebagai pengobat lelah. Bangun jam 4 pagi saya masak supaya suami bs bw mkn siang kekantor, tidur mlm jam 9. Mengurus 2 anak yg satu usia 7 thn yg satu usia 8 bln membuat saya kadang lelah. Butuh refresing. Pingin jalan jalan setidaknya sebulan sekali untuk melepas beratnya fikiran tentang mertua dan keuangan kami.tp suami saya susah sekali untuk saya ajak jalan,pdhl lg ada uang,tetap saja dia gak mau. Saya jd stress, tertekan mungkin sebentar lg gila. Suami tdk mesra sama sekali dgn sy. Hbngan intim sll sy yg minta duluan. Saya berfikir untuk bercerai saja tp posisi saya tdk bekerja saat ini. Mulai saya belajar menjahit supaya ada pemasukan. Setidaknya sampai saya bisa menghasilkan uang sendiri dr menjahit saya akan cerai sama suami. Saya cape 10 tahun terus menerus disiksa lahir bathin. Saya menikah dengan pegawai keuangan bkn dgn tkg bcak atau serabutan yg penghasilan tdk tetap tp kok malah gak bs menafkahi saya.suami hny menafkahi ortunya. Salahkah saya? Sy bukan tipe perempuan yg banyak minta. Sya cuma bl make up setahun sekali, beli baju 5tahun sekali. Bahkan dimall pun sya tak pernah mnta beli ini itu.cukup cuci mata melihat lihat saja.itu sudah surga bagi saya.

Saya sudah menikah selama 3 tahun dan dikarunia 1 orang anak. Sejak menikah saya tinggal dirumah mertua dan 2 adik ipar saya. Jujur hampir semua pekerjaan kecuali memasak saya lakukan sendiri. Awalnya saya diam tapi saya makin tidak betah dengan sikap keluarga suami yg malas dan tidak mau membantu pekerjaan saya. Belum lagi jika datang adik ipar yg sudah menikah dengan 2 anaknya yang sering menginap dirumah dan tentu saja tidak pernah membantu apa-apa. Anak saya pun tidak pernah mau ikut dengan orang dirumah dan selalu memanggil saya dsamping itu jika saya melakukan pekerjaan rumah tak ada satupun yg peduli atau menjaga anak saya. Yang lain sibuk dengan tivi,hp dan laptop. Setiap saya cerita dengan suami jawabannya selalu sama sabar. Pernah suami menasihati ibu mertua yang ada saya malah dihina tukang adu domba,tukang tidur dll. Saya sangat sakit hati selama ini saya sudah melakukan banyak hal tapi tidak pernah dianggap. Saya sudah lelah menjalani rumah tangga seperti ini. Saya sampai minta cerai dari suami tapi beliau tidak mau.

Saya sudah setahun menikah dan memiliki 1 orang anak dan saya masih tinggal bersama mertua, sebenarnya saya sudah tidak betah tinggal bersama mertua karena segala sesuatu selalu di atur mertua bahkan suami sayapun kalah dan menjadi tidak memiliki ketegasan dalam mengambil keputusan, saya sudah bilang suami untuk beli rumah sendiri supaya saya mandiri dan tidak bergantung dengan orang tua, tetapi suami malah memarahi saya. Seringkali saya menangis sendiri di kamar mandi rasanya saya ingin pergi jauh. Suami dengan orang tua saya pun sepertibenci apalagi dengan Mama saya seperti musuh tidak menghargai dan menyepelehkan. Saya harus bagaimana menghadapi mertua dan suami saya?

saya sudah menikah 10 bulan, saya blom punya anak, suami anak tunggal, mertua laki saya udah meninggal 9 bulan yang lalu, sekarang saya tinggal di rumah kontrakan dg suami, yang cuman buat hati ni kesel mertua saya selalu ikut campur urusan rumh tangga saya, dari awal pernikahan sampai skrg mertua saya gak pernah seneng sma saya, dan tiap kali nelfon pn cman sma anakny, gak prnh nanya saya aplgi ngmg sama saya, dan kecewanya saya suami sya selalu deger ap kta mertua saya wlaupun tu gak baik buat rumah tanggany, suami sya ad di genggaman tangan ortu ny, hampir tiap hari suami sya kasar, keras sma sya,, padahl sya udh ngmong, boleh sma ortu, tpi di sisi laen kn ad istri jg d samping suami, masak kalo ada apa2 selalu org tua, kdg sya sllu di sudutkn oleh suami sendiri krna mertua, jauh aja kyk gini apalgi deket, sya sllu bilg sma suami, memg seharusnys kita sma org tua kyk gitu, tpi apakh harus menelantarkn istri dak perduli sma istri krna org tua, kalo ada pa2 di sebelah pihak suami sellu cepet suami turun tangan, tpi kalo ada ap2 di sebelah pihak sy suami sya susah, kdg hidup sya tak adil, memg dri awl sesudh akad nikah suami sya ngmg sm saya, kta suami sya aku gak penting org lain dlh hidup sya, bahkan tu istri sya sendri, istri no 2, klrga sya no 1,, kdg sya berfikir apa sy hrus bertahan dlm situasi yg menyakitkn kyk gini

tinggal di rumah orangtua saya menjadikan suami saya tidak krasan. 1 penyebab ketidak berdayaan saya dan suami untuk pergi dr rumah. yaitu pekerjaan suami saya yg wirausaha di modali ibu saya, agar kami bsa tinggal sama ibu saya. padahal suami ingin punya rumah sendiri.
saya pun di rumah orangtua saya sendiri tiddak betah. ingin pindah walau itu ngontrak. tapi masalahnya kerjaan suami saya itu di modali dari orang tua. apa yg harus saya lakukan, orang tua saya masih menganggap kamiini unyu2. jadi pertnyaan . mau kemana?? pulang kapan? jangan lama2? sangat mengganggu kami yg ingin hidup mandiri. mohon solusinya

Anda sebaiknya berunding pada suami , gmna cara utk bisa pindah rumah dengan alasan yg tepat tnpa menyakiti perasaan ortu , .

Saya menikah dgn suami saya sudah satu tahun 4bln..dr semenjak nikah langsung ikut suami dan tinggal sama mertua pertma nikah saya sempat kerja tapi ga bertahan lama keburu hamil dan ngidamnya repot akhirnya saya berhenti bekerja dan diem d rumah sampe skrg punya anak..suami saya anak pertama dari 4 bersaudara adiknya masi pada sekolah yg pertma kuliah,kedua sma ketiga smp dan semuanya tentu masi butuh biaya banyak..mertua saya org biasa2 z hanya berjualan d pasar..jadi mungkin pendapatannya ga seberapa hanya cukup buat sehari hari dan untuk biaya adik2 sekolah...kadang sesekali minta k suami..itu juga mungkin banyaknya d belakang saya..karena selama ini gaji Suami full d serahkan ke saya..tinggal bersama mertua adalah pengalaman baru yg berbeda..karena saya anak bungsu d rumah 'n semua serba ada karena punya orang tua yg begitu pngertian beda banget sma klrga suamiku..kesannya semua serba ngiritt...bisa d bilang pelit juga sihhh...dr semenjak aku hamil melahirkan sampai sekarang pnya anak ngerasa ga d perhatiin smwa serba d lakukan sendri..mau udah makan ato belum kayanya mertua ga pedulii..sedihnya saat setelah melahirkan sama sekali gda yg nyediain mkanan..lbih peduli ortu sndri yg suka nengokin& bawain makanan kerumah..pkoknya tinggal sama mertua konflik batin banget..sampe skrg ga pernah berani cerita langsung ke suami kecuali kalo udh ga kuat..udh nyesekk baru cerita..itupun berani cerita via sms...dan yg paling nyesek skrg dr sblm nikah 'n sampe skrg aku bawa motor..itu juga masih punya orang tua bukan punya sendiri..masalahnya motornya sekarang tiap hari d pake mertua pergi k pasar..itupun tanpa izin ato basa basii dlu..yg ga enaknya ortu sempet tanya tntang mtor itu suka d pake meruta yaa..disitu bingung bgt..disisi lain ga enk sama mertua kalo bilang ga boleh..v ga enak juga sama ortu kalo motornya d pake trus..suami juga cuek2 z gda omongan apa2..sampe skrg aku mkirin nasib motor itu..ampe kpikiran buat beli motor itu biar bebas pkiran..v blm punya uang..'n suami kayanya ga pedulii...mhon solusinya..gmna cara menyikapi semua inii...jujurr capekk jalanin semua ini..pngen segera pindah..pnya kehidupan sendirii...mksh..

Selam malam..saya Dw usia 23 dan suami sy 36.suami adalah anak sulung dan dalam adat kami diaLah yang bertanggungJawab atas segala keperluan keluarga.namun dia mengesampingkan saya karna ibu mertua saya selalu minta jatah bulanan dan selalu menCek gaji suami saya.sedangkan gaji suami sedikit dan otomatis saya tidak pernah kebagian uang.karna mertua slu berpura pingsan dan sakit jika tidak diberi uang.saya bingung sebenarnya saya ini di anggap apa?giliran uang belanja IBU...pergi refresing IBU...shoping IBU...apa semua harus IBU???jujur saya sudah tidak tahan dan saya akirnya pergi dari rumah dan tinggal bersama ortu saya.apakah saya salah???dan bagaima saya harus menyikapi hal ini?apakah BerCerai jalan yg terbaik??mohon solusinya .

Saya sudah menikah dan mempunyai anak masih umur 3 bulan, saya tinggal bersama suami dirumah mertua semenjak hamil dan itu adalah hari-hari terburuk dalam hidup saya. Saya adalah orang yg mandiri sebelum menikah bahkan masih sekolah saya sudah hidup kost, dan saya harus dipertemukan oleh keluarga suami saya yang sangat kolot dan harus menuruti semua keinginannya, disisi lain saya dibesarkan oleh keluarga yang berfikiran modern dan harus selalu memegang prinsip..tapi semenjak hidup bersama mertua saya sering cek cok dengan suami karena mertua sering menyuruh saya melakukan hal2 yang sama sekali tidak saya sukai (sangat kolot) sebenarnya suami adalah orang yg berfikiran modern tapi karena takut dengan mertua dia terpaksa melakukannya tapi tidak dengan saya karena saya mempunyai alasan tertentu kenapa hal itu tidak harus saya lakukan. Akhirnya kita memutuskan akan tinggal sendiri (mengontrak) tidak jauh dari wilayah rumah mertua agar mertua bisa melihat kami dengan jarak tempuh yg tidak terlalu jauh, tapi mertua sangat marah dan saat suami saya bekerja mertua saya satu per satu bilang kepada saya jangan pisah dengan alasan suami saya sangat manja dan dia tidak pernah hidup sendiri!!! Bukannya itu sudah menjadi urusan kami yg sudah berumah tangga? dia adalah seorang ayah dan kami tau kami bisa mengatasinya, saya berfikir mereka terlalu ikut campur dan terlalu memaksa dan akhirnya cek cok dengan suami tidak berhenti karena suami tidak bisa melakukan apa-apa..mertua beralasan juga jika rumah dan seisinya adalah warisan yg akan diberikan kepada suami saya kelak karena suami saya anak pertama tapi sejujurnya saya tidak menyukainya..karena kami hanya ingin hidup tenang, hidup normal seperti keluarga yg lainnya. Sampai sekarang pun saya masih sering bertengkar dengan suami karena hal ini dan saya memutuskan untuk pindah kerumah orang tua saya jika anak saya sudah kuat untuk diajak keluar kota..mohon bantuannya apakah dengan saya pulang dan tinggal dengan keluarga saya adalah solusinya?

bu saya mau curhat ni saya menikah sudah 1,5th belkngn ini saya ada masalah dengan suami saya .masalahnya sepele suami tak ajak tiga harian kakekku yg bru aja meninggal tetapi suamiku tak di ijinkan oleh bpknya dikarenkn suami saya masih ada tanggungan kerjaan dibengkel bu.dan pda akirnya gegara suami saya gak dinolehin untuk tiga harian saya ptuskn ketempt kakeeku utu sendiri tapi disaat saya ambil pakean ganti untuk kerja besok malah bpk mertua saya mengusir saya dan suami saya tidak menahanku tdk membela aku.sampai saat ini masih cress dngn mertua.apa yg bisa saya perbuat

Suami gamau di ajak ngontrak karena orgtua yg tidak mendukung. Karena suami ank bontot. Jd mertua berfikiran sy tidak menerimain mertua sy lah. Nnt klo sy ngelahirin gmnna lah. Pdhal kn niat kita baik untuk mandiri dn berdiri dikaki sendiri. Agar suami sy dewasa karena suami sy dr dulu dimanja oleh kdua orgtua nya. Yg ada sy kesel mulu klo suami gk dewasa

sya nikah seri sma suami uda 5 tahun

Saya menikah sudah 4tahun lebih.
Dari awal saya bilang ke suami ingin mandiri dan mengontrak rumah. Suami bilang iya tp setelah mempunyai anak. Setelah saya mempunyai anak 2 dia bilang drpada mengontrak lebih baik cicil rumah. Tetapi di saat ada rumah yg cocok suami saya bilang tidak mau KPR. Mau nya pinjam ke ayahnya. Nah disaat pinjam ke ayahnya. Ayah nya tidak menyetujui. Kesimpulan nya ayah nya tidak ingin jauh dr suami saya. Tp yg saya tidak suka. Sikap mereka tidak baik kepada saya. Sering membeda2kan. Dan memperlakukan saya seperti pembantu. Apa2 segala macam saya yg kerjakan apalagi disaat anak2nya yg lain dtg saya sendiri yg repot. Saya sudah tidak kuat lg tinggal di PIM. Intinya mertua saya ingin anaknya tetap dirumahnya tetapi sikapnya tidak baik kepada saya anak saya dan keluarga saya. Mohon solusinya.. terimakasih.

sy menikah sudah 8 bulan.sy ingin sekali pisah rumah dgn mertua. Namun, di waktu pernikahan awal kami, orgtua (mertua) sudh wanti-wanti bhw kami lbh baik tinggal d rumhnya sj. Berhubung suami sy anak bungsu, dan rumh hnya ditinggali oleh 3 org saja (bpk ibu mertua dan suami). alasan ibu mertua sy meminta kami utk tinggal brsama krn buat apa ngontrak toh rumah ini juga msh ada kamar. sy sebenarnya tdk tenang dg semua ini. gimanapun juga sebaik-baiknya mertua sy tetap tingal pisah dg mertua itu lbh baik. mohon solusinya .. 

ass bu aku sudah menikah selama 8 tahun dari pernikahan itu kami dikaruniai 3 putri yg cantik.konflik keluargaku dimulai saat anak kmbar pertama kami lahir.
setelah kelahiran kmbar,suamiku mengajak aku untuk tinggal dekat dengan ortunya.awalnya semua baik.
sumiku bekerja di cikarang dan blm pny motor saat itu.mknya dia pulang seminggu sekali,setiap sabtu
disinilah mulainya konflik keluarga slalu datang.setiap libur dia slalu berada dirumah ortunya.padahal aku sbagai istriny kangen sama dia.dia slalu main ktempat ortunya dari pagi smpai abis magrib.sehibgga tidak ada waktu untuku n anaknya.smpai sampai untuk blnja bulanan slalu dengan ibunya.smpai sekarang aku slalu dianggap salah n tidak becusvoleh suami n ibu mertuaku.padhal setiap sumiku plang aku slalu melayani dia dengan baik.aku slalu di marahi jika aku berkata sedikt menyinggung ibunya. dia slalau menghina papahku(mamaku sdah meninggal)dengan perkataan kadar di depanku tnpa memikrkan perasaanku.sedangkan aku slalu bersikap hormat pada kedua ortuny.aku sudah tak di anggap lagi oleh mertua n suamiku.ssmpai anak ketiga kmi lahirpun kelakuannya padaku blm berubah.aku harus bagaiman lagi,aku bertahan dengan dia karna anak.aku slalu salah dimaya suami dan ibu mertuaku.suamiku pernah ngomong ke aku dengan nada marah,dia berkata" aku dah ga akan nganggep omongan kamu lagi.dan aku akan slalu percaya omongan ibuku daripada imongan kamu." begitu sakit hati ini saat dia ngomng srperti itu.aku slalu menghormati ibunya dn menyangi ibunya.tapi kenapa ibu mertuaku tidak menganggapku.apa salahku.apa dia takut jika suamiku tidak peduli padanya.itu sangat tidak mungkin.tlong donk sarannya aku harus bagaimana lagi menghadapi sikap ibu mertuaku dan sumiku.aku capek sama semua ini.makadi

Saya sudah 4 tahun menikah,,sebelum menikah suami sudah tau keadaan keluarga saya yg saya hanya anal tunggal dam tinggal bersama ayah saya karna ayah dan ibu sudah lama bercerai dan saya ikut ayah saya..ayah saya mungkin agak trauma dengan kegagalan pernikahan maka dari itu dia menolak untuk menikah lagi..dan setelah saya menikah saya tinggal di rumah milik mertua di daerah bogor kebetulan mertua memiliki beberapa rumah untuk diinvestasikan atau hanya sebagai villa saja..ayah saya tidak ikut tinggal bersama kami, karena masih bekerja..karena pekerjaannya agak luang jadi setiap dia berkunjung sekedar menengok saya dan anak2 saya bisa sampai seminggu atau dua minggu..suami saya sering keberatan kalau ayah saya menginap terlalu lama alasannya risih dan juga mertua selalu bilang supaya ayah saya jgn menginap terlalu lama takut terjadi fitnah..terlebih jika suami sedang tugas diluar kota selama berminggu2..menurut sisi pemahaman saya ayah saya mungkin khawatir anak perempuanya ditinggal suami bekerja lama di luar kota sambil membantu mengurus anak2..awalnya saya enjoy tapi kadang saya ikut terdoktrin dengan omongan ibu mertua dan suami saya, sedangkan jauh di lubuk hati saya merasa berdosa sering bersikap tidak menyenangkan agar ayah saya cepat pulang..pemikiran saya, menginap seminggu saja dilarang bagaimana hari tua ayah saya saat sudah tidak bekerja..mau tinggal dimana jika bukan dengan saya, anak tunggalnya, sedangkan saya terganjal aturan suami dan mertua..sangat tidak mungkin saya membuang orang tua kandung sendiri apa kata keluarga yang lain..saya sangat dilema..apa ada saran yg bisa membebaskan saya dari beban mental ini..saya sudah sering mengkomunikasikan ini dengan suami saya tapi hasilnya tetap 0 terlebih mertua dan kaka ipar perempuan masih terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga saya bahksn sampai hal terkecil sekalipun..mohon bantuannya..thx
.

Sudah 2 thun saya menikah,thun pertama saya tinggal di rumah mama mertua,thun ke dua saya dan suami tinggal dirumah ppa mertua..maklum mertua saya sudah lama berpisah dan skr masing2 tlah menikah lagi..semenjak tinggal dirumah ppa mertua say,hidup saya smakin menyedihkan.dari awal bertemu ppa mertua, saya tidak pernah diajak ngobrol bahkan beliau gak pernah menanyai nama saya ataupun tentang orangtua saya. Suami saya gak bekerja ia hanya membantu papanya di toko. Sehingga kami tidak mempunyai penghasilan sendiri dan selalu dpt kiriman jajan dari mma mertua saya.sedangkan papa mertua saya hanya memberikan uang blanja 20rbu rupiah itupun gak dberi setiap hari dikasih jika diminta saja. Saya merasa seakan tinggal dengan orang lain gak merasa kekeluargaannya sama sekali.terus terang saya udah gak tahan lagi tapi mau bagaimana lagi niat suami saya ia ingin mendampingi papanya,ingin merawat papanya yang punya penyakit jantung.tpi saya begitu tertekan seperti tidak dianggap.padahal saya selalu menghormati dan melakukan kewajiban layaknya menantu.apalagi skr saya sdng hamil 3 bulan,saya ingin skali dpt sdikit perhatian dari mertua saya sebagai pengganti ortu kandung saya yang berada di lain propinsi dengan saya.sungguh ini terlalu berat bagi saya.

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.