Dukungan Keluarga pada Penderita Skizofrenia

Kategori: 
Topik: 
Faktor keluarga adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keparahan 
dan kambuh (relapse) atau tidaknya penderita gangguan Skizofrenia. Berdasarkan
kasus yang ditemukan ketika praktek, keluarga seringkali terlambat membawa
penderita ke tenaga medis (dokter, psikiater, perawat atau psikolog). Mereka
juga kurang paham tentang gangguan Skizofrenia dan penanganannya sehingga
penderita yang dibawa ke tempat praktek seringkali telah menurun fungsi sosial
dan kognitifnya. 

Terdapat beberapa hal penting yang perlu dipahami keluarga dalam menangani 
penderita Skizofrenia. Artikel ini hanya membahas secara umum. Untuk 
memahami lebih lanjut, silakan hubungi tenaga medis terdekat. 

1. Kurangnya pengetahuan tentang terapi farmakologis
Terapi farmakologis (obat-obatan anti psikotik) penting bagi penderita 
Skizofrenia karena dapat membantu untuk meningkatkan fungsi sosial 
dan kognitif. Keluarga dapat mendorong penderita agar segera mendapatkan 
pengobatan. Bagi masyarakat yang kurang mampu, obat-obatan anti
psikotik ini bisa didapatkan di beberapa puskesmas atau rumah sakit
dengan kartu jamkesmas. Hanya dokter (psikiater) yang dapat 
memberikan resep ini. Dokter akan menjelaskan tentang jenis dan dosis
obat anti psikotik tersebut. Hal penting lainnya yang perlu diketahui adalah
pentingnya memberi atau meminum obat secara teratur. Selain itu, keluarga
perlu mengetahui tips dan trik dalam memberikan obat kepada penderita. 

2. Kurangnya pengetahuan tentang gejala dan gangguan Skizofrenia
Keluarga seringkali beranggapan bahwa penderita sedang diganggu oleh
"makhluk halus" dan perlu dibawa ke "orang pintar" agar sembuh. Bahkan, 
ada penderita yang dipasung atau dirantai karena kurang pengetahuan 
tentang gejala Skizofrenia. Oleh karena itu, keluarga perlu mencari
dan mendapatkan pengetahuan yang lengkap tentang Skizofrenia 
sehingga tidak terperangkap pada keyakinan atau "belief" yang salah. 
Keluarga juga perlu memahami adanya istilah "kekambuhan gangguan" 
dan "penundaan dalam mendapatkan layanan medis" yang dapat 
memperburuk kondisi penderita. 

3. Mempertahankan situasi kondusif dan nyaman dalam keluarga
Keluarga perlu mengetahui peristiwa-peristiwa rentan yang dapat 
menimbulkan kekambuhan penderita. Dengan mengetahui peristiwa 
tersebut, keluarga dapat menanggulangi peristiwa kurang menyenangkan
dan memunculkan peristiwa positif yang dapat mendukung kondisi 
penderita. Keluarga perlu berlatih komunikasi dan penyelesaian 
masalah secara positif. Mereka juga dapat menerapkan latihan tersebut
pada penderita yang masih dapat berfungsi dengan baik. Selain itu, 
keluarga perlu mengetahui kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan 
dengan penderita. Misalnya, olah raga, mendengarkan musik, berdoa,
menonton tv, menulis dan menggambar.  

Hal lain yang perlu diketahui oleh keluarga adalah harus disadari bahwa 
gangguan ini merupakan gangguan jangka panjang. Artinya, penderita 
membutuhkan perhatian dan perawatan yang sifatnya komprehensif dan
berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang. Penanganan terhadap 
penderita tidak selesai hanya dengan memberikan obat, akan tetapi perlu
disertai dengan intervensi psikologis. Penanganan ini juga membutuhkan
kesabaran dan ketelatenan yang besar. Bahkan, tidak jarang menimbulkan
konflik dalam keluarga. Oleh karena itu, keluarga perlu mempersiapkan diri 
dengan matang agar tidak menimbulkan masalah baru dalam diri penderita. 


Sumber : 
Compton, M. T., Chien, V. H., Liener, A. S., Goulding, S. M., Wiess, P. S. 2008. 
     Mode on fonset of psychosis and family involvement in help-seeking as
     determinants of duration of untreated psychosis. Journal Social Psychiatry
     Epidemiology. 43:975-982. 
Sadock, B.J., & Sadock, V.A. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: 
     Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry (10th Ed.). New York: Lippincott 
     Williams & Wilkins

Artikel terkait:

Komentar

Halo bu, saya ingin bertanya dan berbagi sedikit. Saya menyimpulkan bahwa Ibu saya menderita skizofrenia, beberapa hal yang membuat saya menyimpulkan ini adalah Ibu saya mengubah rasa takutnya akan dunia luar menjadi kebencian yang parah. Beliau kerap kali membuat keributan di lingkungan sekitar dan berkata kata kotor pada tetangga dan semua orang yang lewat. Kami sekeluarga sudah putus asa dan terpecah belah karena hal ini sejak 15 tahun yang lalu. Kebiasaan dan kemarahannya yang sulit dikendalikan membuat kami harus mengusahakan berbagai hal yang mengusik ketenangan kami. Kami harus setiap saat minta maaf pada tetangga yang tidak bisa menerima keadaan ibu saya. Sudah banyak dana dan tenaga yang harus kami korbankan. Ini juga menghambat kehidupan sosial kami karena ibu melarang kami berteman, menikah, bercakap2 dengan tetangga dll. Mohon bantuannya, apa yang harus saya lakukan. Bisakah jika kita berkomunikasi melalui email ?. email saya arie_iwpoke17@yahoo.com

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.