Kepribadian Ganda

Kategori: 
Suatu hari, seorang klien datang menemui saya di tempat 
praktik. Seorang gadis remaja berusia 18 tahun. Ia 
mengatakan bahwa dirinya mungkin memiliki kepribadian 
ganda. Ia menarik kesimpulan demikian berdasarkan 
keluhan yang ia rasakan dan artikel yang ia baca di 
internet. Ia seringkali merasa asing dan tidak mengerti 
mengenai dirinya sendiri. Kami pun memulai obrolan 
yang panjang. 
 
Kepribadian ganda atau dalam istilah medisnya Dissociative 
Identity Disorder, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan 
sebagai Gangguan Identitas Disosiatif adalah gangguan 
kejiwaan yang termasuk langka, jarang ditemukan kasusnya. 
Akan tetapi, gangguan ini cukup populer karena pernah 
dijabarkan dalam novel yang cukup laris bahkan pernah 
difilmkan, yaitu Sybil dengan 16 kepribadiannya. Begitu
juga dengan Billy Milligan dengan 24 kepribadian pun 
sudah dibukukan. Apa yang dimaksud dengan Gangguan 
Identitas Disosiatif sebenarnya?
 
Gangguan Identitas Disosiatif merupakan gangguan disosiatif 
yang kronis dan paling serius. Gangguan Disosiatif adalah 
gangguan yang ditandai dengan adanya perubahan perasaan 
individu tentang identitas, memori, atau kesadarannya. 
Termasuk dalam klasifikasi gangguan ini adalah : A) Amnesia 
Disosiatif: adanya memori atau ingatan yang menghilang 
setelah terjadinya suatu pengalaman traumatik atau 
menekan. Ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang 
berkaitan dengan pengalaman traumatik atau menekan ini 
tidak sama dengan istilah lupa pada umumnya dan juga 
tidak disebabkan oleh pemakaian obat-obatan dan adanya 
kondisi medis yang memunculkan gejala ‘lupa’. B) Fugue 
Disosiatif: kebingungan mengenai identitas diri disertai 
gejala meninggalkan rumah dan atau pekerjaannya dan 
akhirnya membentuk suatu identitas baru. C) Gangguan 
depersonalisasi: Merasa dirinya (fisik dan pikirannya) 
bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Merasa ‘terpisah’ 
dari fisik dan atau pikirannya. Dan D) Gangguan Identitas 
Disosiatif: terdapat setidaknya 2 kepribadian yang 
berbeda dalam diri satu individu, masing-masing 
kepribadian berfungsi secara mandiri. Saat kepribadian 
lain yang dominan, kepribadian lainnya tidak dapat 
mengingat apa yang dilakukan atau apa yang terjadi. 
Namun, terkadang ada satu kepribadian yang dapat 
mengingat atau tetap memiliki kesadaran yang penuh 
akan keberadaan dan aktivitas kepribadian yang lain. 
 
Di satu sisi para peneliti berpendapat bahwa kejadian
gangguan ini sangat sedikit, sedangkan di sisi lain 
para peneliti yakin bahwa gangguan ini belum terdeteksi 
secara mendalam. Dari suatu penelitian di Amerika 
berhasil diketahui bahwa 0,5-2% pasien gangguan jiwa 
yang dirawat di rumah sakit jiwa mengalami gangguan 
ini dan 5% dari seluruh pasien jiwa (baik dirawat 
ataupun tidak) mengalami gangguan identitas disosiatif. 
Dari seluruh sampel penelitian, diketahui 90-100% 
individu dengan gangguan ini adalah perempuan. Namun, 
peneliti memiliki keyakinan bahwa laki-laki yang 
mengalami gangguan ini tidak terdeteksi atau tidak
dilaporkan karena kebanyakan laki-laki dengan gangguan
ini dimasukkan ke penjara, bukan ke rumah sakit. Di 
Indonesia sendiri, kasus ini belum pernah dipublikasikan
atau didiskusikan secara ilmiah dengan contoh kasus 
yang ditemukan di Indonesia, namun bukan berarti tidak ada.
 
Sejauh ini, penyebab Gangguan Identitas Disosiatif 
belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan riwayat 
kehidupan para pasien, nyaris 100% para pasien Gangguan 
Identitas Disosiatif pernah mengalami peristiwa traumatik, 
terutama di masa kanak-kanak. Peristiwa traumatik yang 
biasanya dialami pasien Gangguan Identitas Disosiatif 
adalah penyiksaan fisik atau seksual, atau menyaksikan 
kematian saudara atau teman secara langsung saat ia 
masih kanak-kanak. Namun, tidak semua orang yang 
pernah mengalami peristiwa traumatik di masa kecil 
pasti mengalami Gangguan Identitas Disosiatif. Biasanya, 
penderita gangguan ini sudah memiliki gejala-gejala 
gangguan sekitar 5 tahun sebelum diagnosis ditegakkan. 
Biasanya diketahui bahwa mereka mengalami gangguan 
ini setelah mengalami kejadian-kejadian yang sangat 
ekstrim seperti mencoba melakukan bunuh diri atau 
melakukan tindak kriminal agresif seperti melakukan 
pembunuhan. Belum diketahui tahapan perkembangan 
gangguan ini secara pasti, karena kasus yang terungkap 
biasanya sudah kronis. 
 
Lalu, bagaimana penanganannya? Penanganan Gangguan
Identitas Disosiatif relatif sulit dan membutuhkan 
waktu sangat lama. Tujuan terapi biasanya diarahkan 
untuk menyelesaikan berbagai trauma yang dialami 
oleh individu di awal kehidupannya. Karena 
trauma-trauma tersebut biasanya terjadi pada tahap 
kehidupan yang sangat awal dan atau sudah sangat 
terpendam di alam bawah sadarnya, salah satu teknik 
psikoanalisa yang sering digunakan ialah hipnotis 
(bukan seperti stage hipnotis seperti yang di tv-tv
ya, atau yang dilakukan para magician, bukan pula 
bisa dilakukan oleh kalangan non-psikolog yang 
belajar hipnotis untuk penyembuhan, tapi ini 
merupakan salah satu teknik terapi yang berdasarkan
teori psikonalisa dalam psikologi). Terapi yang 
dilakukan harus sangat berhati-hati karena mengarahkan
individu untuk mengingat kembali kejadian-kejadian 
traumatik yang menimpanya, bisa jadi dapat 
memperparah gangguan. Oleh karena itu, kepercayaan 
antara klien dan terapis sangat penting dalam proses 
terapi tersebut. Selain itu, walaupun belum terbukti 
signifikan, pemberian obat-obatan seperti antidepresan 
pada beberapa kasus dapat memberikan hasil yang positif.