Konsep Diri

Kategori: 
Topik: 

“Gnothi Seauton” atau kenali dirimu sendiri merupakan kutipan
dari filsuf Yunani Kuno yang terkenal, yaitu Sokrates.
Kalimat tersebut merupakan kalimat perintah yang bermakna
sangat dalam bagi siapapun yang (akan) sedang melakukan
perbaikan diri. Karena perbaikan diri baru akan berjalan
dengan baik jika seseorang mengenal dirinya sendiri. Oleh
karena itu, mari kita mulai mengenal tentang diri kita sendiri.


Jadi, apa itu konsep diri? 


Sef-Concept (Konsep Diri)


Pandangan individu tentang dirinya, meliputi gambaran
tentang diri dan kepribadian yang diinginkan, yang diperoleh
melalui pengalaman dan interaksi yang mencakup aspek fisik
atau psikologis. 


Dimensi dari Konsep diri


Calhoun dan Acocella (1990) menjelaskan bahwa konsep diri
terdiri atas tiga dimensi yang meliputi:


1. Pengetahuan terhadap diri sendiri (real-self).
   Usia, jenis kelamin, kebangsaan, suku pekerjaan dan
   lain-lain, yang kemudian menjadi daftar julukan yang
   menempatkan seseorang ke dalam kelompok sosial, kelompok
   umur, kelompok suku bangsa maupun kelompok-kelompok tertentu
   lainnya.
2. Pengharapan mengenai diri sendiri (ideal-self).
   Pandangan tentang kemungkinan yang diinginkan terjadi pada
   diri seseorang di masa depan. Pengharapan ini merupakan
   diri ideal.
3. Penilaian tentang diri sendiri (social-self).
   Penilaian dan evaluasi antara pengharapan mengenai diri
   seseorang dengan standar dirinya yang akan menghasilkan
   harga diri yang berarti seberapa besar orang menyukai
   dirinya sendiri.


Pembentukan konsep diri


Konsep diri merupakan proses yang berkelanjutan sepanjang hidup
manusia. Konsep diri masih dapat diubah asalkan ada keinginan
dari orang yang bersangkutan.


Symonds (dalam Agustiani, 2006) menyatakan bahwa persepsi
tentang diri tidak langsung muncul ketika individu dilahirkan
akan tetapi berkembang bertahap seiring munculnya kemampuan
untuk memahami sesuatu. Selama periode awal kehidupan,
konsep diri sepenuhnya didasari oleh persepsi diri sendiri.
Akan tetapi, seiring dengan bertambahnya usia, pandangan
mengenai diri sendiri ini mulai dipengaruhi oleh nilai-nilai
yang diperoleh dari interaksi dengan orang lain
(Taylor dalam Agustiani, 2006). Dengan kata lain, konsep diri
juga merupakan hasil belajar melalui hubungan individu dengan
orang lain.


Orang lain yang dapat mempengaruhi konsep diri kita
(Calhoun & Acocella, 1990):


1. Orang tua
Orang tua adalah kontak sosial paling awal dan paling kuat yang
dialami oleh seseorang. Informasi yang diberikan orang tua
pada anak lebih tertanam daripada informasi yang diberikan
oleh orang lain dan berlangsung hingga dewasa. Anak-anak yang
tidak memiliki orang tua, disia-siakan oleh orang tua akan
memperoleh kesukaran dalam mendapatkan informasi tentang dirinya
sehingga menjadi penyebab utama anak berkonsep diri negatif.


2. Kawan sebaya   
Kawan sebaya menempati posisi kedua setelah orang tua dalam
mempengaruhi konsep diri. Peran yang diukur oleh kelompok
sebaya sangat berpengaruh pada pandangan individu terhadap
dirinya sendiri.


3. Masyarakat
Masyarakat sangat mementingkan fakta-fakta yang melekat
pada seorang anak, seperti siapa orang tuanya, suku bangsa,
dan lain-lain. Hal ini pun dapat berpengaruh pada konsep
diri individu.  


Faktor lain yang dapat berpengaruh pada konsep diri
• Pola asuh
Pola asuh orang tua menjadi faktor yang signifikan dalam
mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang
tua akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta
sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan
mengundang pertanyaan pada anak dan menimbulkan asumsi bahwa
dirinya tidak cukup berharga untuk disayangi dan dihargai. 


• Kegagalan
Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan
pertanyaan pada diri sendiri dan berakhir pada kesimpulan
bahwa penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan
membuat orang merasa tidak berguna.


• Kritik diri
Kadang kritik memang dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang
atas perbuatan yang dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri
berfungsi sebagai rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku
agar keberadaan kita diterima dan dapat beradaptasi.
Walaupun begitu, kritik diri yang berlebihan dapat
mengakibatkan individu menjadi rendah diri.


Jenis-jenis konsep diri
Konsep Diri Positif

Konsep diri positif menunjukkan adanya penerimaan diri dimana
individu dengan konsep diri positif mengenal dirinya dengan
baik sekali. Konsep diri yang positif bersifat stabil dan
bervariasi. Individu yang memiliki konsep diri positif dapat
memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam
tentang dirinya sendiri sehingga evaluasi terhadap dirinya
sendiri menjadi positif dan dapat menerima dirinya apa adanya
(Calhoun dan Acocella, 1990).


Orang dengan konsep diri positif ditandai dengan lima hal,
yaitu (Sukatma, 2004):
• Yakin dengan kemampuannya dalam mengatasi masalah
• Merasa setara dengan orang lain
• Menerima pujian tanpa rasa malu
• Menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan,
  keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui
  oleh masyarakat,
• Mampu memperbaiki dirinya sendiri karena ia sanggup
  mengungkapkan aspek kepribadian yang tidak ia senangi
  dan berusaha mengubahnya.


Konsep diri negatif


Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep diri negatif
menjadi dua tipe, yaitu:


• Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar
  tidak teratur, tidak memiliki perasaan, kestabilan dan
  keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu
  siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai
  dalam kehidupannya.
• Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur.
  Hal ini bisa terjadi karena individu dididik dengan cara yang
  sangat keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak
  mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum
  yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat.


Orang dengan konsep diri negatif ditandai dengan lima hal,
yaitu (Brooks dan Emmert dalam Sukatma, 2004):
• Peka terhadap kritik, dalam arti orang tersebut tidak tahan
  terhadap kritik yang diterimanya dan mudah marah.
• Responsif terhadap pujian. Semua embel-embel yang menunjang
  harga diri menjadi pusat perhatiannya.
• Bersikap hiperkritis, artinya selalu mengeluh, mencela,
  dan meremehkan apapun dan siapapun. Tidak mampu memberi
  penghargaan pada kelebihan orang lain.
• Merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan. Orang lain
  adalah musuh.
• Bersikap pesimis terhadap kompetisi. Enggan bersaing
  dan merasa tidak berdaya jika berkompetisi dengan
  orang lain.



 

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.