Maaf Bagi Kesehatan

Kategori: 
Topik: 

Seringkali kita berkata "maaf" ketika kita tidak sengaja menginjak kaki orang lain ketika berjalan atau di kendaraan yang penuh. Begitu pula saat perayaan hari besar, seperti Idul Fitri, kotak surat ponsel atau kontak messenger kita dibanjiri oleh ucapan "maaf" dari berbagai orang termasuk orang-orang yang tidak kita kenal akrab atau hanya kita kenal sepintas lalu. Dan kita akan berkata "tidak apa-apa" kepada orang yang meminta maaf kepada kita.

Akan tetapi, pernahkah Anda merasa amat sulit untuk meminta maaf atau memberi maaf kepada orang lain yang pernah menyakiti kita? Atau malahan Anda merasa kata "maaf" itu memiliki makna yang amat dangkal semudah kita mengucapkannya?

Apa arti pemaafan itu?

Memaafkan adalah kesediaan untuk menghilangkan rasa kesal, penilaian negatif, dan perilaku tak peduli terhadap seseorang yang telah menyakiti kita secara tidak adil, sambil mengembangkan perasaan belas kasih, kemurahan hati, bahkan cinta kepada orang lain itu. Memaafkan mencakup “lebih dari sekedar menerima atua menoleransi ketidakadilan”, “menghentikan amarah terhadap orang yang menyakiti”, menawarkan “kondisi positif berupa kebaikan”, dan “menghentikan kekesalan demi kebaikan dirinya orang lain”.

Pemaafan mencakup tiga komponen, yaitu:

  1. Memaafkan orang lain, ketika memaafkan orang lain, kita menawarkan sikap positif kepada seseorang yang tidak patut mendapatkannya karena kesalahan yang telah diperbuatnya. Pemaafan sendiri tidak memerlukan perdamaian atau individu harus tetap berada dalam suatu hubungan. Perdamaian adalah bentuk terpisah dari pemaafan yang melibatkan perubahan perilaku terhadap perlaku;
  2. Menerima pemaafan dari orang lain, menerima pemaafan terjadi ketika individu menyakiti orang lain, kemudian korban dengan sukarela menawarkan penyudahan sikap, pikiran, dan perilaku negatif, serta menggantinya dengan perasaan, pikiran, dan perilaku yang lebih positif kepada pelaku. Catat bahwa pelaku tidaklah berhak akan pemaafan. Pemaafan merupakan hadiah, dan perdamaian tidak perlu diikuti oleh pemberian atau penerimaan maaf;
  3. Pemaafan diri, pemaafan diri merupakan kesediaan untuk mengabaikan rasa kekesalan diri dalam menghadapi kesalahan objektif yang diakui seseorang, sambil mengembangkan rasa belas kasih, rendah hati, dan cinta terhadap dirinya sendiri. Pemaafan diri selalu melibatkan perdamaian terhadap diri, dan individu membutuhkan usaha yang jujur untuk berubah di masa depan. 

 

Secara umum, stimulus dari pelaku untuk mencari pemaafan, menerima pemaafan dapat menyebarkan pemaafan diri, dan pemaafan diri mungkin mendorong untuk memaafkan orang lain di masa depan.

Fungsi memaafkan

Memaafkan dapat berhubungan dengan kesejahteraan mental dan fisik melalui kebaikannya dalam membantu seseorang mengelola hubungan interpersonal yang stabil dan suportif. Secara empiris, pemaafan dibuktikan berperan penting dalam kesehatan fisik dan mental individu. Ketika seseorang kesulitan untuk memaafkan, maka dirinya akan dipenuhi rasa amarah, dendam, kebencian, ketidaknyamanan, sedih, kurangnya kendali, memunculkan tanda-tanda neurotik, bahkan depresi. Pemaafan berkaitan erat dengan menurunnya penghindaran dan keinginan balas dendam seseorang. Pemaafan juga dapat membuat seseorang menjadi kurang cemas, depresif, dan merasa getir.

Selain memaafkan orang lain, memaafkan diri sendiri juga menunjukkan hubungan yang lebh kuat terhadap aspek kesehatan mental individu. Kegagalan memaafkan diri sendiri berkorelasi positif dengan depresi, kecemasan, ketidakpercayaan, self-esteem, dan introversi sosial. Pemaafan juga berhubungan erat dengan kepuasan yang lebih baik akan kehidupan, berkurangnya depresi dan kecemasan, dan juga berkurangnya perasaan bersalah dan kekacauan dalam diri di kemudian hari.

Orang-orang yang memaafkan, baik dirinya maupun orang lain, memiliki self-esteem yang tinggi, emosi yang positif, menurunnya rasa malu, rendahnya neurotis, dan rendahnya ekcemasan dan depresi. Pemaafan juga berkaitan dengan rendahnya permusuhan dan munculnya sikap saling mempercayai.

Orang-orang yang melakukan pemaafan akan memiliki kemampuan untuk mengatur emosi yang berkembang lebih baik sehingga dapat mengatasi secara konstruktif respon emosional negatif yang timbul dari kesalahannya. Individu yang dapat mengatur emosi yang lebih baik juga dapat lebih mudah untuk memaafkan. Seseorang yang mampu memaafkan dapat melihat emosi mereka dengan lebih jelas dan memiliki sedikit kecenderungan menjadi tertekan dibandingkan orang lain yang tidak mampu memaafkan dirinya.

Bagaimana mendapatkan pemaafan yang sejati?

Pemaafan yang sepenuhnya berasal dari hati seringkali kita sebut sebagai pemaafan sejati. Pemaafan yang sejati membutuhkan proses yang melalui empat tahapan, yaitu:

  1. Uncovering phase: menelaah pembelaan diri, melawan amarah, mengakui rasa malu, dan pemahamaan kognitif akan rasa sakit;
  2. Decision phase: kesadaran bahwa strategi lama tidaklah adekuat, mempertimbangkan pemaafan sebagai pilihan, dan berkomitmen untuk memaafkan;
  3. Work phase: membingkai ulang, empati dan kesadaran akan belas kasihan, serta menerima rasa sakit;
  4. Deepening phase: menemukan makna, menyadari kebutuhan akan pemaafan dari orang lain, keutuhan dan dukungan, menemukan tujuan baru dalam hidup, serta kesadaran untuk mengurangi afek negatif.

 

Sebagai sebuah proses yang melalui berbagai tahapan, tentunya pemaafan sejati membutuhkan waktu. Setelah orang lain menyakiti atau membuat kita merasa tersakiti, tentunya tidak serta merta kita dapat memaafkannya. Itu adalah kondisi yang wajar, mengingat sebuah proses membutuhkan waktu, dan hanya kita yang tahu kapan waktunya tiba untuk memaafkan. Oleh karena itu, perlu berhati-hati, ketika kita dapat dengan mudah mengatakan maaf, kemungkinan maaf itu hanyalah sekedar bentukan formalitas dan keinginan kita untuk menjaga perdamaian saat itu, padahal jauh di lubuk hati kita ada sedikit rasa negatif yang bisa jadi suatu saat malah berbalik menyerang kita karena kita tidak sepenuhnya memaafkan.

Pemaafan sejati juga melihat seberapa besarnya masalah yang terjadi. Ketika kita memandang sebuah masalah sebagai masalah yang cukup besar, bahkan mencakup tidak hanya perasaan kita, tetapi juga pikiran dan perilaku kita, maka di situlah letak kita bisa mendapatkan pemaafan sejati itu. Pemaafan yang sejati haruslah mencakup tiga aspek dalam diri kita, yaitu afektif (berupa emosi positif terhadap orang yang menyakiti), kognitif (mencakup pikiran positif terhadap orang atau hal-hal yang mengingatkan kita dengan kejadian/orang yang menyakitkan kita), dan perilaku (seperti tidak lagi menghindari orang yang berhubungan dengan rasa sakit kita ataupun menunjukkan perilaku damai kepada orang tersebut). Setelah mencakup ketiganya, rasa perdamaian itu akan datang dengan sendirinya dan pemaafan yang terkesan dangkal bisa jadi tidak lagi muncul dalam kehidupan kita. Rasa damai itulah yang akan membawa pada kondisi kesehatan mental yang lebih baik dan membawa pada kondisi kesehatan fisik yang lebih sehat. 


Sumber bacaan:

Worthington, E.L. (Ed). (1998). Dimensions of Forgiveness. Philadelphia: Templeton Foundation Press.

Murray, R. J. (2002). Forgiveness as Therapeutic Option. The Family Journal, 10, 315-322.

Komentar

Nice article :)

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.