Sakinah, Mawaddah wa Rahmah

Kategori: 
Topik: 
Salah seorang ahli konseling pernikahan, dalam bukunya, 
menganalogikan dua manusia yang menikah itu bagaikan 
dua ekor landak, mereka membutuhkan satu sama lain 
untuk saling menghangatkan, namun apabila mereka 
berdekatan duri mereka akan menusuk dan menyakiti 
pasangannya.
 
Pernikahan adalah hubungan yang unik antara dua manusia.
Pada fitrahnya, manusia adalah makhluk individual 
namun sekaligus pula makhluk sosial. Mereka 
mengutamakan kenyamanan bagi diri mereka sendiri 
namun juga membutuhkan orang lain dalam hidupnya. 
Mereka tak mampu untuk hidup sendiri, namun dalam 
kebersamaannya dengan orang lain seringkali kebutuhan 
individual mereka saling bertentangan dengan pasangan. 
Oleh karena itu, mengelola pernikahan bagaikan seni 
belajar untuk bersama dan untuk tetap menghargai 
keindividualitasan masing-masing.
 
Dalam Islam, dikatakan bahwa kunci untuk membina 
rumah tangga yang sakinah (tentram, nyaman) ialah 
dengan adanya mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). 
Perwujudan mawaddah itu dapat berupa perhatian dan 
kejutan-kejutan kecil bagi suami atau istri. 
Misalnya, suatu waktu seorang suami bangun pagi-pagi 
lalu membersihkan rumah dan menyediakan sarapan 
untuk istri dan anak-anaknya. Atau sebaliknya, ketika 
suami pulang bekerja dengan kondisi badan lelah di 
sore hari istri menyambut dengan senyum termanisnya 
dan hidangan makan malam kesukaan suami. Perhatian 
dan kejutan kecil semacam ini dalam pernikahan 
dapat menumbuhkan dan memelihara cinta di antara 
pasangan. Sedangkan rahmah berhubungan dengan semua 
kewajiban antara suami dan istri. Suami menjalankan 
kewajibannya sebagai pencari nafkah, pelindung, dan 
pemimpin keluarga, dan istri menjalankan kewajibannya 
untuk menaati suami, merawat, dan mengasuh 
anak-anaknya. Apabila masing-masing menyadari dan 
menjalankan kewajibannya, niscaya rahmah dalam 
pernikahan akan diperoleh.
 
Celakanya, tidak sedikit pernikahan saat ini yang 
telah kehilangan cinta dan kasih sayangnya sehingga 
hilanglah pula ketentraman di dalamnya. Mereka, 
karena dengan berbagai macam sebab, tenggelam dalam 
keindividualitasannya dan lupa menyeimbangkan dengan 
kewajibannya untuk berbagi hidupnya dengan pasangan 
dan anak-anaknya. Akibatnya, tidak ada lagi 
ketentraman di dalam rumah tangga. Namun demikian, 
tidak serta merta rumah tangga yang seperti ini 
tidak dapat lagi selamatkan. Perceraian adalah 
solusi ‘mudah’, namun bukanlah solusi cerdas. 
Layaknya, individu yang menikah telah matang secara 
emosi sehingga tidak gampang menerima solusi mudah 
untuk bercerai apabila dirasakan tidak ada lagi 
‘kecocokan’ di dalam rumah tangga. Pasangan yang 
menikah harus bersedia untuk selalu belajar dan 
berusaha mencari keseimbangan antara kenyamanannya 
(keindividualitasannya) dan kewajibannya bagi 
keluarga. Inilah solusi jangka panjang dalam 
menjaga keberlangsungan rumah tangga. Tidak instan, 
tidak mudah, namun solutif bagi terciptanya rumah 
tangga yang sakinah mawaddah dan penuh rahmah.