Waspada Gejala Depresi pada Ibu Hamil

Kategori: 
Selama proses kehamilan, seorang perempuan akan menjalani
berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikologis. 
Secara fisik, calon ibu dapat mengalami nyeri di bagian perut, 
perubahan pada bagian dada, sesak nafas, kaki bengkak, 
sembelit, sakit kepala, dan sebagainya. Sedangkan secara 
psikologis, mereka akan merasakan perubahan mood dan emosi. 
Misalnya, sering menangis, lekas marah, sedih atau cepat 
berubah menjadi senang. Perilakunya pun dapat berubah 
tergantung situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. 
Meski begitu, calon ibu seringkali tidak memahami dan tidak 
menyiapkan diri terhadap perubahan tersebut. Selain itu, 
mungkin tidak ada pihak yang menyampaikan mengenai perubahan 
tersebut kepada calon ibu. 
 
Sebagian dari masyarakat memiliki anggapan bahwa kehamilan 
dan memiliki bayi adalah periode yang paling menyenangkan 
bagi seorang perempuan. Oleh karena itu, berbagai perubahan 
yang terjadi selama kehamilan itu hal biasa, hanya perlu 
dijalani dan tidak perlu dianggap terlalu berlebihan. 
Faktanya, terdapat ibu hamil yang memang mengalami perubahan 
drastis dan tiba-tiba pada aspek psikologisnya. Salah satunya, 
ibu hamil dapat mengalami gejala depresi, yaitu merasa sedih, 
tertekan dan kehilangan minat pada setiap kegiatan selama 
dua minggu atau lebih.
   
Berdasarkan data dari The American College of Obstetricians 
and Gynecologists (ACOG) dan The American Psychiatric 
Association (APA) , 14 hingga 23 persen dari ibu hamil di
Amerika mengalami gejala depresi selama kehamilan. Sedangkan
menurut WHO (2008), ibu hamil yang mengalami gejala depresi 
bervariasi dari 10 hingga 41%. Di Indonesia masih sulit untuk 
menemukan data ibu hamil yang mengalami gejala depresi. 
Salah satu penyebabnya adalah ibu hamil tidak melaporkan 
gejala tersebut atau menutupi persoalan yang dialaminya. 
Padahal dengan menyampaikan gejala atau persoalan yang 
dialaminya pada tenaga kesehatan terdekat, ibu hamil 
tersebut bisa mendapatkan jawaban dan pertolongan yang 
dibutuhkan. 
 
Ibu hamil yang tidak mendapatkan penanganan terhadap gejala 
depresinya dapat berkembang menjadi gangguan depresi 
setelah melahirkan atau dikenal sebagai depresi postpartum. 
Adapun tanda-tandanya adalah kesulitan untuk terhubung 
dengan bayi, menarik diri dari lingkungan, gangguan makan 
dan tidur, menangis atau marah berlebihan, merasa bukan 
ibu yang baik dan kelelahan yang berlangsung secara 
terus menerus. Dalam jangka panjang, ada keinginan untuk 
menyakiti diri sendiri atau bayi, bahkan mencoba bunuh diri. 
Sedangkan dampak dari gejala depresi yang tidak tertangani 
selama kehamilan adalah dapat melahirkan anak dengan ukuran 
tubuh dan pertumbuhan kepala yang lebih kecil. Menurut 
penelitian yang dilaporkan oleh jurnal Psikiatri di Belanda 
pada tahun 2012, pertumbuhan kepala yang lebih kecil 
berarti anak dapat mengalami masalah perilaku, gangguan 
kecemasan, ADD/ADHD atau kesulitan saat menyesaikan 
tugas yang memerlukan kemampuan kognitif.      
 
Penanganan segera pada gejala depresi sangat diperlukan. 
Oleh karena itu, keluarga, teman atau tetangga terdekat 
dari calon ibu perlu lebih perhatian jika ada gejala 
depresi yang muncul. Bukan sebaliknya, lingkungan sosial 
menghakimi atau menilai negatif terhadap calon ibu. 
Beberapa hal yang dapat dilakukan lingkungan terdekat 
untuk calon ibu adalah mengajak berbicara, memberikan 
waktu untuk istirahat, memperhatikan asupan gizi dari 
makanan, dan mengajak berolah raga ringan di luar rumah.