Kenakalan Remaja

Minggu, 26 Februari 2012, pukul 03.00 WIB dini hari, Mapolresta Pekanbaru di Jl. Ahmad Yani dirusak sekumpulan orang. Mereka melempari markas kepolisian tersebut dengan benda tumpul sehingga mengakibatkan kaca-kaca ruangan Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK) yang beradadi dekat pintu masuk Mapolresta hancur berantakan. Mereka juga diduga bertanggung jawab terhadap perusakan sejumlah bangunan ruko yang berada dekat Mapolresta Pekanbaru. 


Hasil penyelidikan kepolisian membawa kepada fakta bahwa pelaku perusakan Mapolresta tersebut ialah sekumpulan remaja yang disebut polisi sebagai ‘geng motor’. Anggota ‘geng motor’ ini kebanyakan masih berstatus siswa SMP dan SMA sederajat. Saat tulisan ini dibuat,  ditetapkan 12 orang sebagai tersangka perusakan Mapolresta Pekanbaru, enam di antaranya ialah wanita.


Melihat berita semacam ini, umumnya masyarakat berpendapat bahwa remaja yang menampilkan tingkah laku demikian adalah remaja yang ‘nakal’. Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan ‘kenakalan remaja’ dan perilaku-perilaku seperti apakah yang dapat dikatakan sebagai ‘kenakalan remaja? Sudah benarkah pemahaman masyarakat mengenai istilah ‘kenakalan remaja’? Artikel ini akan mencoba menjelaskan hal tersebut.


Untuk memahami istilah ‘kenakalan remaja’ dengan baik, maka kita perlu terlebih dahulu memahami istilah ‘remaja’. Mendefinisikan ‘remaja’ tidak mudah itu. ‘Remaja’ merupakankonsep yang relatif baru, baru muncul kira-kira setelah era industrialisasi merata di negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya, lebih kurang seratus tahun belakangan ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dalam berbagaiundang-undang yang ada di berbagai negara tidak dikenal istilah ‘remaja’, demikian puladi Indonesia. 


Pemahaman mengenai remaja tidak terlepas dari definisinya secara hukum, perkembangan fisik, serta sosial psikologis, yang dapat berbeda di negara yang satu dengan negara yang lain. Secara hukum, hukum di Indonesia hanya mengenal anak-anak dan dewasa, walaupun batasan yang diberikan untuk itu pun bermacam-macam. Menurut Hukum Perdata, batas kedewasaan seseorang adalah 21 tahun (atau kurang dari itu namun sudah menikah). Sedangkan Hukum Pidana, memberikan batasan usia 18 tahun sebagai usia dewasa (atau kurang dari itu namunsudah menikah), artinya anak-anak yang berusia kurang dari 18 tahun masih menjadi tanggungjawab orang tua apabila ia melanggar hukum pidana.


Dalam ilmu kedokteran atau biologi, ‘remaja’ dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik ketika alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya (ciri-ciri seksual sekunder mulai tampak). Pada pria mulai terbentuk otot dan tumbuh kumis/janggut dan alat reproduksinya telah mampu menghasilkan sel sperma. Pada wanita, mulai tumbuh payudara, pinggul membesar, dan setiap bulannya menghasilkan sebuah sel telur dari indung telurnya. Sedangkan, hampir semua ahli yang mempelajari perkembangan jiwa dari berbagai sisi beranggapan bahwa masa remaja merupakan masa penyempurnaan dari perkembangan pada tahap-tahap sebelumnya, antara lain penyempurnaan dari perkembangan kognitif (kesadaran, inteligensi—Teori Piaget), perkembangan moral (Teori Kohlberg), dan perkembangan seksual (Teori Freud). Akan tetapi, perkembangan jiwa (psikis) juga tidak terlepas dari kondisi masyarakat (sosial) dimana remajatersebut hidup. Remaja yang tinggal dalam masyarakat yang menuntut persyaratan yang beratuntuk menjadi dewasa. Biasanya, hal ini ini terjadi pada masyarakat yang menuntut pendidikan setinggi-tingginya bagi anak-anaknya atau yang kondisi sosial-ekonominya menengah ke atas. Dengan kriteria-kriteria tersebut di atas, sebagai pedoman umum siapa yang dapat disebut sebagai ‘remaja’ di Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah (Sarwono, 2006).


Lalu apakah ‘kenakalan remaja’ dan perilaku-perilaku apa saja yang dapat dikatakan sebagai ‘kenakalan remaja’? Apakah mencontek di sekolah, berambut gondrong, dan berpakaian tidakrapi itu merupakan bentuk ‘kenakalan remaja’? Bagaimana dengan remaja yang melakukan hubungan seksual di luar nikah, mengkonsumsi naza atau yang terlibat perusakan fasilitasumum seperti kasus perusakan Malporesta baru-baru ini? Sarwono (2006) membedakan antara penyimpangan tingkah laku yang dilakukan remaja dan kenakalan remaja. Perilaku menyimpang adalah segala tingkah laku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah, peraturan keluarga, dan lain-lain). Jika penyimpangan ini terjadi terhadap norma-normahukum pidana barulah disebut sebagai ‘kenakalan’. Artinya, tingkah laku-tingkah laku yang jika dilakukan oleh orang dewasa (18 tahun ke atas sesuai hukum pidana) disebutsebagai kejahatan atau tindakan kriminal, jika dilakukan oleh anak usia 18 tahun ke bawahdianggap sebagai ‘kenakalan’. Di luar itu, penyimpangan-penyimpangan lainnya disebutsebagai perilaku menyimpang saja.


Terdapat empat jenis kenakalan remaja (Jensen, 1985 dalam Sarwono, 2006): 1) Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, misalnya  perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan. 2) Kenakalan yang menimbulkan korban materi, misalnya pengrusakan,     pencurian, pencopetan, pemerasan. 3) Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain,  misalnya pelacuran, penyalahgunaan obat. Di Indonesia, hubungan seksual     sebelum menikah dapat dimasukan ke dalam jenis ini. 4) Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status sebagai pelajar    dengan cara membolos, mengingkari status sebagai anak dengan cara minggat     dari rumah atau membantah perintah orang tua, dan sebagainya. Pada usia mereka,  perilaku-perilaku ini memang belum melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya,  karena yang dilanggar adalah status-status dalam lingkungan primer (keluarga) dan sekunder (sekolah) yang memang tidak diatur oleh hukum secara rinci. Akan tetapi, kalau    kelak remaja ini dewasa, pengingkaran status ini dapat dilakukan terhadap atasannya di kantor atau petugas hukum di dalam masyarakat. Oleh karena itu, pengingkaran status ini digolongkan Jensen sebagai kenakalan, bukan perilaku menyimpang.   


Dengan penjelasan di atas dapatlah kita lihat bahwa perusakan Mapolresta Pekanbaru yang dilakukan oleh sejumlah remaja berusia belasan tahun akhir Februari lalu ialah salah satu bentuk kenakalan remaja yang menimbulkan korban materi. Tindakan ini jelasmelanggar hukum pidana, namun karena dilakukan oleh seseorang yang belum berusia18 tahun maka dikatakan sebagai kenakalan remaja dan remaja tersebut harus dikembalikanke orang tuanya untuk dididik lebih lanjut. Demikian pula perilaku hubungan seksual sebelum menikah dan mengkonsumsi naza (penyalahgunaan obat) termasuk dalam kenakalan sosial. Perilaku seperti mencontek di sekolah, berambut gondrong, dan berpakaian tidakrapi apabila diikuti dengan perilaku membolos dan membantah nasihat guru dapat dikelompokkan ke dalam kenakalan yang melawan status. Akan tetapi, untuk menilai atau mendiagnosa kenakalan anak atau remaja hendaknya diperhatikan faktor kesengajaan dan kesadaran dari anak itu. Selama anak atau remaja itu tidak tahu, tidak sadar, dan tidaksengaja melanggar hukum, dan tidak tahu pula akan konsekuensinya, maka ia tidak dapatdigolongkan sebagai ‘nakal’.


Permasalahan kenakalan remaja harus disikapi secara bijak oleh orangtua, masyarakat, aparat hukum dan pemerintahan. Pertama, kita harus paham benar apa yang dimaksud dengan kenakalan remaja dan perilaku-perilaku apa saja yang termasuk ke dalamnya,jangan terlalu cepat menilai seorang anak sebagai anak yang ‘nakal’. Kedua, jika ternyata kenakalan anak atau remaja sudah membahayakan masyarakat dan patut dijatuhi hukumanoleh negara dan orangtuanya ternyata tidak mampu mendidik anak itu lebih lanjut, anak itumenjadi tanggung jawab negara. Apakah ia akan dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan khusus anak atau dimasukkan ke lembaga-lembaga rehabilitasi lainnya seperti ParmadaSiwi (di bawah Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya) dan Panti Sosial Marsudi Putra Handayani (di bawah Dinas Sosial Jakarta).


Sumber: Sarwono, Sarlito W. 2006. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Riau Pos Online, diunduh tanggal 6 Maret 2012. 

Leave a Reply