Kualitas Hidup Keluarga di masa Pandemi Covid-19

Masa pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19) mempengaruhi segala aktivitas, mulai dari lingkup luas yaitu pemerintahan hingga lingkup sosial terkecil yaitu keluarga. Salah satu pengaruh yang cukup dirasakan bagi keluarga adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Anggota keluarga yang biasa bekerja atau sekolah mengalihkan kegiatan kerja dan pendidikannya di rumah. Akibatnya, keluarga perlu melakukan adaptasi pada berbagai aktivitas harian, penyesuaian ekonomi, menghadapi kejenuhan, menghadapi kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan anggota keluarga, menghadapi ketidakpastian kapan keadaan Pandemi Covid-19 akan berakhir, dan sebagainya. Hal ini dapat menjadi stres harian yang perlu dikelola oleh keluarga agar tetap menjadi keluarga yang sehat dan sejahtera.

Keluarga yang sehat menurut Park, Turnbull, dan Turnbull III (2002) dapat diketahui dari kualitas hidupnya yang baik yaitu seberapa besar keluarga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, bagaimana mereka menikmati kehidupan mereka sebagai keluarga, dan memiliki kesempatan untuk mencapai tujuan hidup yang bermakna bagi anggota keluarganya. Menurut Summers, Poston, Turnbull, dkk. (2005), ada lima aspek yang perlu diperhatikan oleh anggota keluarga dalam mencapai kualitas tersebut, yaitu interaksi keluarga, pengasuhan, kesejahteraan emosional, kesejahteraan fisik dan material, serta dukungan sosial bagi keluarga, apalagi bagi mereka yang memiliki anggota keluarga dengan keadaan khusus. Kelima domain ini dapat dikelola oleh anggota keluarga sehingga lebih mudah beradaptasi dalam menghadapi aktivitas harian selama masa pandemic Covid-19 ini.

Aspek interaksi keluarga dan pengasuh berkaitan dengan proses interaksi dalam keluarga yang menimbulkan kepuasan tersendiri bagi anggota keluarga (Hoffman, Marquis, Postonm dkk., 2006). Hal ini dapat berupa bagaimana keluarga menghabiskan waktu bersama, saling berkomunikasi dan mengatasi permasalahan bersama, mengekspresikan kasih sayang, perhatian dan dukungan, membantu anak-anak menjadi mandiri dan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Dalam situasi PSBB ini, keluarga dapat menyusun jadwal atau ceklist aktivitas pribadi maupun aktivitas bersama dan mengkomunikasikan hal tersebut sehingga dapat saling membantu. Hal ini terutama sangat bermanfaat ketika keluarga memiliki anak yang masih kecil atau anggota yang memerlukan perhatian khusus. Ekspresikan perhatian dan kasih sayang dengan berbagi tugas, mengucapkan terima kasih, pujian, memberikan pelukan dan lainnya sesuai kebiasaan keluarga. Ciptakan juga suasana atau aktivitas bermain bagi anak-anak dan libatkan diri dalam aktivitas anak tersebut, sehingga mempererat keakraban orang tua dan anak. 

Aspek kesejahteraan fisik, material, emosional, dan dukungan sosial keluarga berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki keluarga yang juga dapat mendukung interaksi dan pengasuhan dalam keluarga (Hoffman, Marquis, Postonm dkk., 2006). Sumber daya ini dapat berupa sumber daya ekonomi, sumber daya pribadi (hobi, pengetahuan, keterampilan, dll), dan relasi sosial. Pada masa PSBB ini, secara finansial, buat pengaturan belanja dan tentukan kebutuhan yang prioritas maupun yang dapat ditunda. Bila membutuhkan dana tambahan, keluarga dapat saling membantu atau membuat produk yang dapat dijual. Secara kesejahteraan fisik dan emosional, keluarga dapat berupaya mengkonsumsi makanan bergizi atau vitamin, beristirahat yang cukup, melakukan aktivitas rekreasional seperti membaca, menulis, melukis, mengubah tata ruangan, dan sebagainya yang membuat keluarga merasa nyaman. Melakukan aktivitas fisik bersama keluarga juga dapat dilakukan sekaligus mengembangkan aspek interaksi bersama keluarga. Selain itu, menjalin komunikasi dengan teman-teman terdekat melalui jaringan dunia maya juga dapat membuat seseorang tetap merasa terhubung dengan lingkungan sosialnya. Melakukan meditasi, memperbanyak doa, atau rutinitas ibadah juga dapat menjadi salah satu aktivitas pilihan untuk memerhatikan kesejahteraan emosional. Mencari atau bergabung dengan komunitas juga dapat membantu keluarga menghadapi kendala-kendala yang muncul dalam situasi sehari-hari, terutama bila terdapat anggota keluarga yang memiliki kebutuhan khusus. Keluarga dapat mencari informasi atau meminta referensi dari tenaga kesehatan atau spesialis yang berkaitan dengan kebutuhan khusus anggota keluarga tersebut. Bagi anggota keluarga yang sakit dan perlu melakukan pemeriksaan, hubungi rumah sakit terlebih dahulu untuk membuat perjanjian dan patuhi prosedur kesehatan dan perlindungan diri ketika keluar rumah.

Hal yang perlu diingat juga adalah, masa Pandemi Covid-19 ini di luar kuasa pribadi namun juga tidak akan berlangsung selamanya. Sehingga kita tidak perlu khawatir berlebihan jangka panjang yang belum tentu terjadi. Fokuskan diri pada hal-hal yang dapat dilakukan saat ini, menyeleksi informasi yang relevan, dan melaksanakan prosedur kesehatan dan perlindungan diri. Apabila ada anggota keluarga yang merasa mengalami masa adaptasi yang sulit dan mengganggu rutinitas atau interaksi dalam keluaga, hubungi layanan konsultasi psikologis.

Hoffman, L., Marquis, J., Poston, D., Summers, J.A., & Turnbull, A. (2006). Assessing family outcomes: Psychometric evaluation of the Beach Center Family Quality of Life Scale. Journal of Marriage and Family, vol. 68, hal. 1069-1083.

Park, J., Turnbull, A.P., & Turnbull III., H.R. (2002). Impacts of proverty on quality of life in families of children with disability. Council for Exceptional Children, vol. 68 (2), hal. 151-170.

Summers, J.A., Poston, D.J., Turnbull, A.P., Marquis, J., Hoffman, L., Mannan, H., & Wang, M/ (2005). Conceptualizing and measuring family quality of life. Journal of Intellectual Disability Research, vol. 49 (10), hal. 777-783.

Leave a Reply