Menulis untuk Kesembuhan Diri

Masalah muncul bukan karena orang lain, melainkan dari diri kita sendiri. Terlalu banyak yang dipikirkan, dirasakan, dikhawatirkan, membuat kita kesulitan untuk menemukan atau menemukenali diri kita sendiri. Membuat kita terkurung dalam situasi yang tidak mengenakkan, mengganggu kesehatan mental kita sendiri. Pikiran dan perasaan yang seakan menghimpit membuat diri kita kesulitan untuk mengekspresikan diri. Bahkan bisa berujung pada gangguan-gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, stres, dan sebagainya.

Mengekspresikan diri adalah bagian penting dari membebaskan pikiran dan perasaan kita yang begitu berat. Oleh karena itu, biasanya salah satu teknik terapi yang digunakan untuk membantu individu mengatasi permasalahannya adalah dengan mengekspresikan dirinya. Salah satu cara mengekpresikan diri itu adalah dengan menulis. Menstrukturkan ide-ide yang berlompatan di pikiran kita dan mengalirkan rasa yang kita miliki, adalah tujuan dari terapi menulis. Sederhananya, saat kita merasa banyak sekali hal yang kita pikirkan, saat kita menuliskannya akan lebih menemukan ide-ide apa saja yang sebenarnya sedang kita pikirkan.

Contoh konkrit lainnya, saat kita sedang berada dalam rapat, bukankah menuliskan ide-ide yang muncul dari para peserta rapat mengenai suatu tema tertentu merupakan cara paling praktis agar ide baru mudah dicapai?

Seperti disebutkan dalam sebuah situs www.positivepsychology.com menulis merupakan bentuk terapi yang paling murah, mudah diakses, dan terapi yang bersifat serba guna. Artinya, siapapun bisa melakukan dan menggunakannya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pribadinya. Disebutkan pula terapi menulis dapat menjadi cara untuk mengembangkan pribadi, mempraktekkan ekspresi kreatif, dan adanya perasaan dikuatkan serta memiliki kendali terhadap kehidupannya sendiri.

Individu yang mempraktekkan terapi menulis diberi kesempatan untuk membebaskan diri mereka, yang mungkin selama ini terkurung dalam aturan-aturan yang membuat mereka merasa tertekan, cemas, atau khawatir berlebihan. Melalui kesempatan untuk melakukan proses kreatif selama proses penulisan tersebut, maka diberi kesempatan pula untuk menjadi kreatif dengan cara masing-masing tanpa ada penilaian apapun.

Mengapa Menulis Menjadi Pilihan Dibanding Teknik Terapi Lainnya?

Sebuah teknik diciptakan dengan tujuan yang sama, yaitu memberikan efek penyembuhan bagi yang melakukannya. Setiap teknik tentunya memiliki bukti mengenai keunggulan masing-masing, begitu pula dengan menulis. Beberapa alasan yang membuat MENULIS jadi salah satu teknik yang tepat untuk digunakan adalah:

  1. KATA menjadi bagian yang tak lepas dari kehidupan kita. Bayangkan saja ketika kita berpikir pun kata menjadi bagiannya meskipun tidak terucap.
  2. MENULIS adalah kegiatan yang kita lakukan sedari kecil.
  3. MENULIS memberikan ruang bagi pikiran kita untuk menjadi lebih terstruktur dan membuat emosi kita lebih bisa terdefinisi.
  4. MENULIS murah karena tidak membutuhkan bahan.
  5. MENULIS bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Dengan demikian, tidak menjadi alasan bahwa kita tidak mampu menulis. Ketidakmampuan untuk menulis hanya bersumber dari kesulitan diri kita untuk membebaskan diri. Kita terpaku pada aturan-aturan yang membuat kita ragu, sudah tepatkah tulisan kita atau tidak?

Apa Media Terbaik untuk Menulis?

Di era teknologi ini, gawai dan sejenisnya mulai menggantikan pulpen dan kertas. Padahal setiap goresan yang kita lakukan saat menulis membuat syaraf-syaraf kita kembali terkoneksi satu sama lain. Secara sederhana, Elizabeth Sullivan dalam sebuah artikel dari psychcentral.com menjelaskan ketika kita menulis, maka:

“…..you are creating a powerful connection between your inner experience and your body’s movement out in the world.”

Berarti bukan sebuah keniscayaan kalau menulis mampu untuk mengembalikan kesadaran kita atas pikiran dan perasaan yang sebelumnya penuh dengan kesemrawutan. Menulis menghubungkan diri kita dengan pengalaman di alam ketidaksadaran kita, sehingga kita lebih mudah mengakses dan mengobatinya, apabila menemukan luka di dalamnya.

Teknik Menulis Apa yang Paling Baik?

Kita bisa mengawali dengan menulis secara bebas. Apapun yang sedang dipikirkan, dirasakan, silahkan tuliskan saja. Tidak ada larangan atau aturan. Ketika ingin menuliskannya dalam huruf kecil-kecil, silahkan. Apabila di tengah tulisan merasakan kemarahan atau kekesalan, maka tuliskanlah ekspresinya seperti apa. Apakah dengan huruf kapital, coret-coretan, dan sebagainya, semua tidak dipersalahkan. Semua dapat diterima secara apa adanya.

Teknik menulis seperti ini menjadi bagian dari yang kita sebut sebagai katarsis, yaitu proses pengungkapan emosi sebebasnya hingga tercapai kelegaan dalam diri. Dengan demikian, semua benang kusut yang kita rasa, dapat terurai satu per satu.

Teknik lain yang dapat dilakukan adalah dengan menuliskan surat, bisa untuk diri sendiri, orang lain yang berkaitan dengan permasalahan kita, atau hal lainnya. Bisa juga menyurati kita di masa lalu atau malah diri kita di masa depan. Semua tergantung pada kebutuhan kita masing-masing.

Apapun bentukya, sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan kita menulis dengan sebuah tujuan. Hal inilah yang membedakan antara kita menulis biasa dengan menulis sebagai terapi. Saat kita memutuskan menggunakan menulis sebagi sarana penyembuh luka hati, maka kita harus menyusun tujuannya. Tujuan itu dapat berupa apa yang kita harapkan terjadi setelah kita menulis itu serta siapa sasaran yang kita tuju saat kita menulis.

Sebuah terapi diciptakan untuk mengatasi sebuah permasalahan yang jelas bentuknya. Jadi, saat melakukan prosesnya, kita tahu titik akhir yang harus kita dapatkan. Hal ini mencegah munculnya masalah-masalah yang tidak selesai setelah semua proses panjang yang kita lakukan.

Proses menyembuhkan diri kita adalah proses yang tidak akan sebentar, maka dibutuhkan sebuah tujuan agar kita tidak salah jalan nantinya. Jika sudah siap, silahkan mencobanya.

Referensi:

The Power of Writing: 3 Types of Therapeutic Writing diambil dari https://psychcentral.com/blog/the-power-of-writing-3-types-of-therapeutic-writing/

About the author

Nurindah Fitria merupakan psikolog lulusan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa Universitas Indoneisa. Setelah resign menjadi pendidik di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, saat ini ia menjad psikolog rekanan di organisasi non-profit yang menangani kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, ia lebih banyak menghabiskan aktivitasnya dengan menulis. Beberapa buku sudah ia hasilkan, antara lain buku "Kapan Siap Nikah?" tentang persiapan pranikah dan buku "Melepas Luka". Tema-tema yang ia tekuni adalah seputar pernikahan, keluarga, trauma, kekerasan, religiusitas, dan pemaafan.

Leave a Reply