Menjalin Komunikasi Romantis Bersama Pasangan

Ketika memasuki gerbang pernikahan, sebagian pasangan mengharapkan hubungan yang romantis, harmonis, awet dan langgeng. Namun suatu hubungan tak selamanya berjalan mulus sesuai dengan komitmen semula. Ada kalanya hubungan tak semanis dan seindah yang diharapkan. Seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan masing-masing, muncul permasalahan dan hubungan pasangan pun menjadi renggang. Terlebih lagi, saat anggota keluarga bertambah sehingga menyita perhatian, waktu, dan energi pasangan.

Tanpa adanya kontak dan komunikasi diantara pasangan, hidup berumah tangga semakin mudah mengalami keretakan. Komunikasi yang diharapkan dari pasangan suami istri adalah pembicaraan yang lebih mendalam dan dapat menyampaikan pesan dengan leluasa. Suami istri
sebaiknya mengetahui hal yang tidak disukai atau yang tidak disukai. Kebiasaan, sifat, harapan dan keinginan pasangan juga perlu dibicarakan satu sama lain. Hindari untuk menebak-nebak keinginan pasangan dan berharap pasangan mengerti tanpa perlu diberitahu.  

Permasalahan yang sering dikeluhkan dalam komunikasi adalah pasangan sudah berkurang kadar romantisnya atau bahkan tidak romantis sejak awal menikah. Permasalahan ini dipahami oleh para psikolog hingga akhirnya menyatakan romantisme dalam pernikahan biasanya hanya bertahan 18 bulan hingga tiga tahun. Meski begitu, kenyataannya tetap ada pasangan yang tetap dapat mempertahankan romantisme dalam jangka panjang.

Jadi, bagaimana cara agar mampu membangun komunikasi romantis dengan pasangan?

Cara pertama sebelum kita menuntut pasangan untuk berkomunikasi romantis adalah menunjukkan bentuk komunikasi romantis tersebut kepada pasangan terlebih dahulu. Jangan segan atau gengsi untuk mengulang ucapan dan perilaku yang diinginkan kepada pasangan setiap hari, perlahan-lahan pasangan akan berusaha melakukan hal yang sama. Kalaupun romantisme sudah ditunjukkan oleh pasangan namun belum sesuai dengan keinginan, maka coba komunikasikan tanpa perlu memaksa atau menuntut secara terus menerus. Misalnya, sekedar ingin makan bersama, mendengar sapaan, atau meminta hadiah. Perubahan dalam menunjukkan perilaku romantis tidak dapat terjadi dalam waktu yang singkat.

Terkadang pasangan berperilaku kurang romantis karena memang tidak memiliki contoh romantis dari lingkungan ia dibesarkan. Mungkin saja ia dibesarkan di lingkungan yang keras untuk bertahan hidup sehingga wajar jika tidak paham cara untuk berperilaku romantis. Hindari membanding-
bandingkan dengan tipe pasangan yang lain karena dapat memicu permasalahan baru. Pasangan terkadang perlu diyakinkan bahwa romantisme perlu tetap ditunjukkan pada meski usia pernikahan terus bertambah.

Sesekali menghabiskan waktu berdua, tanpa anak dan gawai, diperlukan untuk menumbuhkan romantisme antar pasangan. Luangkan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi. Tingkatkan kemampuan komunikasi pasangan dengan lebih banyak mendengar dalam keadaan emosi yang sedang tenang. Selain itu, perhatikan bahasa tubuh (non verbal) dari pasangan, seperti nada suara, kontak mata, jarak berbicara dan sebagainya. Bahasa tubuh ini memberikan kita lebih banyak informasi dibandingkan hal yang sedang dibicarakan. Melakukan kontak fisik dapat membantu sebagai pernyataan perhatian pada pasangan. Selain itu, adanya perhatian kepada pasangan dengan cara memberikan pesan singkat, hadiah atau kejutan dapat mengembangkan komunikasi romantis. Jangan lupa berikan pujian pada pasangan karena mau berjuang selama ini dalam satu rumah tangga. Pujian atau pesan singkat romantis pastinya bisa membuat pasangan merasa bahagia.

Sumber :

Degges-White, S. (2016). 10 Steps to Effective Couples Communication. Psychology Today. Diambil dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/lifetime-connections/201605/10-steps-effective-couples-communication pada Juni 2020

Kirshner, D. (2009). Relationship Advice: The 411 to Creating True Love. Psychology Today. Diambil dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/finding-true-love/200906/relationship-advice-the-411-creating-true-love pada Juni 2020

Stosny, S. (2018). The Most Important Thing You Can Say to Your Partner. Psychology Today. Diambil dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/anger-in-the-age-entitlement/201804/the-most-important-thing-you-can-say-your-partner pada Juni 2020

About the author

Awen adalah nama panggilannya. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana psikologinya di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (UI). Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Profesi Psikolog kekhususan Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Indonesia (UI). Ia senang mendalami topik tentang pernikahan, keluarga dan pendidikan anak. Saat ini, ia praktek di sebuah klinik di Balikpapan dan sebagai founder dari Quadra Sinergi Consulting.

Leave a Reply