5 Tanda Waktunya Datang ke Psikolog

Photo by Markus Winkler on Unsplash

Pertanyaan yang sering muncul kalau sedang diskusi perihal masalah psikologis adalah kapan waktunya kita ke psikolog / psikiater. Apakah ada tanda tertentu yang menjadi batasan agar kita segera mendatangi profesional?

Saat ini perhatian kita terhadap masalah kesehatan mental sudah semakin meningkat. Akan dengan mudah kita temui informasi yang berkaitan dengan isu-isu kesehatan mental ini. Mulai dari situs, akun media sosial, sampai seminar yang membahas dari beragam sudut pandang.

Belum lagi kita dapat dengan mudah menemukan buku-buku self-healing yang bisa dipraktikkan di rumah. Akan tetapi, tetap saja ada kondisi saat kita membutuhkan bantuan orang lain.

Mendatangi tenaga profesional bukanlah hal yang tabu. Sayang, stigma masyarakat yang masih menganggap masalah kesehatan mental adalah sebuah aib, menyulitkan kita untuk mendatangi psikolog / psikiater.

Oleh karena itu, kita harus bisa meyakinkan orang-orang di sekitar kita bahwa ada kondisi saat seseorang memang membutuhka bantuan. Bukan hanya karena sepelenya masalah yang ia hadapi, tetapi efek jangka panjang yang dirasakan.

Setidaknya ada lima tanda yang menunjukkan kita memiliki kondisi serius, sehingga membutuhkan bantuan tenaga ahli dalam membantu mengatasi masalah kita.

Mengganggu Fungsi Kehidupan Sehari-hari

Individu yang sehat mampu menjalankan tugas dan fungsinya sehari-hari. Mulai dari mengurus diri, bekerja, bersosialisasi, sekolah, beribadah, dan sebagainya.

Saat kondisi mental kita sudah mengganggu fungsi ini, seperti sulit makan, susah tidur, tidak mau bersosialisasi, dan sebagainya, maka itulah waktunya kita berkonsultasi kepada psikolog/psikiater.

Ketika produktivitas kita terganggu tanpa masalah fisik yang berarti, artinya kita mengalami hambatan dalam sisi psikologis yang membutuhkan perhatian. Maka, jangan ragu untuk menemui tenaga ahli terdekat dari tempat tinggalmu.

Orang Lain Terganggu oleh Pikiran, Emosi, maupun Perilaku Kita

Kita hidup sebagai makhluk sosial. Meskipun kesehatan mental adalah tanggungjawab pribadi kita, kondisi ini haruslah mampu menebarkan aura positif kepada orang-orang di lingkungan kita.

Jadi, saat orang lain sudah mulai merasa terganggu oleh kondisi kita, misalnya menyulitkan pasangan berkomunikasi dengan kita, anak-anak merasa tidak nyaman dengan perilaku kita, tidak ada teman yang berani mendekati, dsb, maka mungkin sudah waktunya kita membahas hal ini dengan ahlinya.

Mungkin kadang kita tidak menyadari hal ini, sehingga bisa jadi orang-orang di sekitar kita yang menyarankan kita untuk mendatangi profesional. Bisa pasangan, atasan, atau malah orang tua kita.

Jika demikian, cobalah untuk mengikuti saran ini terlebih dahulu karena biasanya orang lain bisa lebih objektif dalam menilai diri kita, dibanding kita sendiri yang sedan berada dalam masalah.

Cemas Berlebihan dan Sering Panik

Ini adalah salah satu indikasi kita memiliki kecemasan berlebihan dalam diri kita. Namun, agar lebih jelas jangan mudah menghakimi diri. Datangilah psikolog atau psikiater, agar bisa mendiskusikan kondisimu dengan baik.

Terkadang kita merasa tidak mengapa kita merasa cemas atau panik. Namun, kalau kedua hal itu sampai mengganggu kita untuk beraktivitas, tidak membuat tenang, dan berpikir belebihan (overthinking), bukan sebuah masalah untuk mendatangi psikolog atau psikiater.

Sering Menangis Tanpa Sebab atau Lelah Berlebihan

Adanya suasana hati yang membuat kita sepertinya kesulitan untuk beraktivitas, bisa menjadi indikasi ada masalah psikologis yang menyedot energi kita.

Apalagi jika kondisi ini membuat kita jadi merasa putus asa terhadap masa depan, tidak mau melakukan apapun, atau merasa semua yang kita lakukan adalah sia-sia, maka ada baiknya segera menemui profesional.

Gangguan suasana hati, seperti depresi, bisa menyebabkan kondisi demikian. Gangguan ini tentunya membuat kita menjadi tidak produktif dan mengganggu fungsi kita sehari-hari. Oleh karena itu, mendatangi psikolog atau psikiater bisa menjadi solusi.

Ada Niatan untuk Melukai atau Menyakiti Diri

Jika sudah sampai pada titik ini, maka keperluan mendatangi profesional menjadi nomor satu. Segeralah mencari pertolongan dari pusat-pusat kesehatan yang terdekat dengan kita. Baik itu puskesmas, rumah sakit, atau biro-biro psikologi yang bisa ditemui paling dekat dengan tempat tinggal.

Jika ada orang-orang terdekat kita yang sudah mulai menunjukkan tanda ini, maka segeralah bawa mereka menemui tenaga profesional. Setidaknya, itulah satu pertolongan pertama yang bisa kita lakukan untuk mereka.

Lima tanda ini adalah ciri-ciri yang paling sering tampak yang mudah kita kenali agar kita segera menemui profesional untuk meminta bantuan. Meskipun demikian, ada satu lagi tanda penting lainnya yang mengharuskan kita segera menemui ahli yang dapat membantu kita.

Saat kita sudah sangat tidak merasa nyaman dengan diri kita sendiri, maka itulah saat yang paling tepat untuk menemui psikolog atau psikiater. Sebab, kitalah yang paling tahu kondisi mental kita.

Setiap orang memiliki kadar kenyamanan yang berbeda. Oleh karena itu, merasakan dan memahami seberapa nyamannya kita terhadap diri kita sendiri, menjadi indikator penting kesehatan mental kita.

Jangan pernah merasa masalah kita ini terlalu ringan jika dibandingkan dengan orang lain. Setiap orang memiliki toleransi yang berbeda untuk sebuah masalah.

Bisa saja kita merasa berat, meski orang lain merasa itu biasa saja. Bisa saja yang menurut kita ringan, bagi orang lain itu adalah masalah yang kompleks dan membutuhkan penanganan.

Jadi, kunci untuk merasa sehat mental ada di dalam diri kita. Maka, membutuhkan atau tidak, kita pun yang harus tahu batasannya. Jangan termakan oleh stigma yang menganggap hanya orang “sakit” yang membutuhkan penanganan.

Bukankah hanya kita sendiri yang tahu, bahwa kita sedang tidak baik-baik saja? Maka, kenalilah tanda kapan kita butuh mendatangi psikolog atau psikiater. Tidak ada masalah yang kecil, adanya hanya masalah yang mengganggu eksistensi kita sebagai seorang manusia.

About the author

Nurindah Fitria merupakan psikolog lulusan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa Universitas Indoneisa. Setelah resign menjadi pendidik di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, saat ini ia menjad psikolog rekanan di organisasi non-profit yang menangani kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, ia lebih banyak menghabiskan aktivitasnya dengan menulis. Beberapa buku sudah ia hasilkan, antara lain buku "Kapan Siap Nikah?" tentang persiapan pranikah dan buku "Melepas Luka". Tema-tema yang ia tekuni adalah seputar pernikahan, keluarga, trauma, kekerasan, religiusitas, dan pemaafan.

Leave a Reply