Pentingnya Pemberian Dukungan Bagi Pasien dengan Covid-19

Pasien 01 Covid-19 menceritakan perjuangannya sembuh dari Covid-19. Ia mengaku, sempat stres dan depresi saat dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. “Saat saya dan keluarga dikonfirmasi positif Covid-19, itu memang pada awalnya ada tekanan batin dan ada rasa depresi yang diakibatkan oleh faktor eksternal dan internal,” katanya dalam konferensi pers di Graha BNPB, Sabtu (9/5/2020). Walaupun begitu, ia memutuskan untuk selalu berpikiran positif dan tidak stres selama menjalani perawatan. Ia mengaku, bertambah semangat karena mendapat dukungan dari keluarga, sahabat dan para tenaga medis (Kompas, 2020).

Sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan, Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Dan Napza, Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan sebuah Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Di dalam panduan tersebut, terdapat penjelasan secara terperinci tentang pemberian dukungan jiwa dan psikososial selama masa pandemi. Pada panduan tersebut juga dijelaskan tentang aspek-aspek agar kesehatan jiwa dan kondisi psikososial tetap optimal, yaitu emosi positif, pikiran positif, hubungan sosial yang positif dan secara rutin beribadah di rumah atau secara daring. Panduan tersebut juga menjelaskan bagaimana menjaga kesehatan jiwa dan kondisi psikososial seseorang ketika didiagnosa Covid-19.

Seperti yang kita ketahui, munculnya pandemi menimbulkan stres pada berbagai lapisan masyarakat, hal ini sesuai survey dari WHO tentang kesehatan mental berkaitan dengan kondisi dunia yang tengah mengalami pandemi Covid-19. Ketakutan, kekhawatiran dan stres adalah hal wajar terjadi dalam kondisi ini (WHO, 2020c). Meski begitu, ketika seseorang dikonfirmasi positif Covid-19, tingkat stres menjadi lebih tinggi. Hal ini merupakan penelitian dari Imperial College London tahun 2020 tentang hormon stres yang mempengaruhi risiko kematian pasien Covid-19. Lebih lanjut, berdasarkan hasil penelitian tersebut, pasien dengan Covid-19 menunjukkan kadar kortisol jauh lebih tinggi dibandingkan daripada pasien non-Covid-19. 

Bertahan dalam ruangan tertutup dan tidak dapat berinteraksi dengan orang lain membuat seseorang dengan Covid-19 merasa kesepian bahkan sampai menunjukkan masalah psikologis yang bisa berlanjut dan menjadi masalah kejiwaan yang nantinya akan lebih sulit ditangani. Dalam keadaan seperti ini, dukungan dari keluarga, teman, tetangga, dan tenaga kesehatan sangat diperlukan. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Daulay, Setiawan & Febriany (2014) didapatkan hasil bahwa dukungan yang diberikan cargiver penting dalam membantu kesembuhan.

Pada dasarnya, dukungan psikososial ini dapat diberikan dari siapa saja kepada orang yang mengalami Covid-19. Hal pertama yang bisa dilakukan pada orang tersebut adalah pemberian informasi untuk mengelola stress yang sedang dialami, mengurangi penggunaan media sosial terutama berita tentang Covid-19, memberikan informasi yang benar tentang Covid-19, memberi informasi tentang cara melakukan relaksasi, pentingnya olah raga dan berpikir positif. Sedangkan secara spesifik, keluarga, teman dan tetangga dapat mempertahankan hubungan interpersonal secara rutin, seperti saling menyapa, memberi penghargaan dan harapan dengan memanfaatkan teknologi informasi, berbagi cerita positif, berbagi perasaan serta pikiran. Keluarga, teman dan tetangga juga dapat membangun jaringan sosial dalam memenuhi kebutuhan dasar, diantaranya pangan, sandang, serta papan. Jika seseorang dengan Covid-19 dirawat di RS, petugas kesehatan dapat membantu menghibur dan meyakinkan dirinya agar bisa merasa rileks selama beberapa menit.  

Masyarakat pun memiliki perannya tersendiri dalam mendukung pemulihan seseorang dengan Covid-19. Peran masyarakat penting dalam memberi perhatian, tidak dijauhkan dari interaksi sosial dan tidak melakukan penolakan terhadap anggota keluarga. Masyarakat bisa membantu dalam menyediakan tempat untuk isolasi secara mandiri, beserta fasilitasnya. Masyarakat dapat membantu dengan memberi informasi yang benar dan dukungan kelompok melalui media sosial. Hindari untuk memberikan stigma pada orang dan keluarga yang terdiagnosa Covid-19. Informasikan layanan psikologi secara daring, jika orang dan keluarga tersebut memerlukan bantuan psikologis.

Daftar Pustaka :

Amirullah, A. K. & Kartinah. (2020). Penanganan Kecemasan Pasien Survivor Covid-19 Intensive Care Unit: Literature Review. Surakarta : Seminar Nasional Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (SEMNASKEP) 2020. Diakses dari : https://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/12261

Daulay, N. M., Setiawan, & Febriany, S. (2014). Pengalaman Keluarga sebagai Caregiver dalam Merawat Pasien Strok di Rumah. Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Diakses dari : https://media.neliti.com/media/publications/104792-ID-pengalaman-keluarga-sebagai-caregiver-da.pdf

Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Dan Napza, Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit. (2020). Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial Pada Pandemi Covid-19. Jakarta : Kementerian Kesehatan Ri. Diakses dari : https://covid19.kemkes.go.id/protokol-covid-19/pedoman-dukungan-kesehatan-jiwa-dan-psikososial-pada-pandemi-covid-19

Kompas.com. (2020, 19 Juni). Studi: Hormon Stres Pasien Covid-19 Tinggi, Risiko Kematian Makin Besar. Diakses 15 Februari 2021 dari https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/19/163100723/studi–hormon-stres-pasien-covid-19-tinggi-risiko-kematian-makin-besar?page=all

Kompas.com. (2020, 9 Mei). Pasien 01: Dukungan Keluarga dan Sahabat Bantu Sembuh dari Covid-19. Diakses 15 Februari 2021 dari https://nasional.kompas.com/read/2020/05/09/12544611/pasien-01-dukungan-keluarga-dan-sahabat-bantu-sembuh-dari-covid-19

Pjnhk.go.id. (2020, 17 November). “Keluarga dalam Ketidakpastian” Peran Perawat Di Ruang Isolasi Covid-19 RSJPDHK. Diakses 15 Februari 2021 dari https://pjnhk.go.id/artikel/keluarga-dalam-ketidakpastian-peran-perawat-di-ruang-isolasi-covid-19-rsjpdhk

About the author

Awen adalah nama panggilannya. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana psikologinya di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (UI). Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Profesi Psikolog kekhususan Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Indonesia (UI). Ia senang mendalami topik tentang pernikahan, keluarga dan pendidikan anak. Saat ini, ia praktek di sebuah klinik di Balikpapan dan sebagai founder dari Quadra Sinergi Consulting.

Leave a Reply