Hubungan Mertua - Menantu

Topik: 

Saya seorang istri dan ibu, suami saya baik dan sangat pengertian, anak (umur 8) sehat dan pintar. Secara ekonomi, kami berkecukupan tanpa berlebihan, suami dan saya bekerja, saya bekerja part-time sesuai hobby sehingga cukup banyak waktu luang. Sementara kami bekerja, perawatan anak dibantu oleh kedua mertua, dimana kami masih serumah. Dalam pergaulan saya merasa senang punya teman cukup banyak dengan latar belakang berbeda2, menikmati waktu berinteraksi dengan mereka. Semua di kehidupan saya baik-baik saja menurut semua orang, bahkan tidak sedikit teman yg mengaku iri melihat kehidupan saya yg sangat ideal.

Ideal kecuali untuk saya. Ternyata saya ada masalah dengan sifat introvert, dimana saya lebih nyaman sendirian daripada bersama orang lain. Seringkali saya merasa sesak berada bersama keluarga, bahkan saat bersama anak dan suami sekalipun. Saya merasa terlalu 'diganduli' keluarga, terlalu ribut di rumah, kurang punya waktu untuk diri sendiri, dan jenuh harus selalu memberi perhatian kepada keluarga. Saya merasa semua anggota keluarga saya kurang mandiri, selalu harus dilayani hal2 kecil dan mertua juga selalu ribut menyuruh saya melayani suami. Mertua seringkali tidak konsisten, hal2 yg dikatakan seringkali tidak sejalan dengan yg dilakukan, sehingga sering saya
merasa 'eneg' dengan sikap munafik itu. Selain itu, di keluarga masih berlaku adat jawa, dimana yg muda harus selalu 'iya' dan sopan pada orangtua, sehingga saya sangat sungkan melakukan protes atas sikap mertua tersebut secara terang2an.

Saya selalu berusaha menyelesaikan tugas dan kewajiban saya tanpa mengeluh ataupun minta bantuan sebisanya, dan saya sebenarnya berharap anggota keluarga yg lain juga bisa berbuat demikian. Setidaknya anggota keluarga yg dewasa; anak saya ajari untuk mandiri, tapi sejauh ini belum cukup berhasil karena dia sering dilayani mertua saat saya bekerja sehingga kebiasaannya belum konsisten. Saya tidak keberatan membantu dan melayani, tapi saya amat sangat tidak suka bila harus selalu melayani. Keluhan dan protes kemungkinan besar ditanggapi dengan negatif dan malah berbuntut panjang, sehingga seringkali saya lebih baik diam selama masih bisa diatasi sendiri.

Biasanya saya mampu cuek, menjalani apa adanya, tapi ada saat2 dimana saya 'break down' karena hal ini. Saya tidak bisa curhat ke siapapun, termasuk suami, karena saya tidak yakin hal aneh ini bisa dimengerti. Standar umum : keluarga, anak dan suami adalah segalanya, adalah nomor satu; sementara saya diam2 punya standar lain yg lebih
egois : kebebasan saya adalah segalanya buat saya. Saya sungguh bersyukur dianugerahi segalanya yg amat baik, tapi entah kenapa saya merasa hidup seperti ini bukan buat saya. Hingga saat ini saya cuma menghibur diri dengan rencana bertahan sekitar 12 tahun lagi, saat anak sudah cukup dewasa, saya ingin pergi jauh2 sendirian dan jarang pulang. Entah bisa entah tidak. Mudah2an bisa bertahan waras sampai saat itu tiba, karena waktu2 'break down' sepertinya makin sering sehingga membuat lelah
sendiri sampai sakit kepala berhari2.

Adakah saran apa yg bisa saya lakukan agar bisa berdamai dengan diri sendiri? Atau memang harus sabar menunggu 12 tahun lagi ya? :)

-T, 36 tahun-


========================================================================================

Dear Mbak T,

Situasi yang Mbak hadapi umum dialami oleh pasangan-pasangan lain yang masih tinggal dengan orang tua, dimana kita dituntut untuk beradaptasi tidak hanya dengan keluarga inti kita sendiri, namun juga dengan keluarga besar.

Sebenarnya wajar bila Mbak merasa tidak mempunyai 'me-time',karena tuntutan peran sebagai istri, ibu sekaligus menantu. Mbak sebenarnya berhak atas hal ini, hanya saja Mbak perlu mengkomunikasikannya.

Untuk jangka panjang sebenarnya ada baiknya Mbak bisa menyuarakan pendapat secara asertif, memperjuangkan hak pribadi tanpa menyakiti orang lain. Terlalu memikirkan apa pendapat orang juga bisa tidak sehat untuk Mbak sendiri. Jadi ada saatnya kita boleh 'egois' dengan cara yang dapat diterima, tentunya. Misalnya izin ke suami untuk pergi sendirian, sekedar ke salon atau berbelanja untuk refreshing agar Mbak punya tenaga lagi keesokan harinya. Berdiskusi dan terbuka mengenai hal ini sebenarnya juga perlu dilakukan. Bila mbak bisa menyampaikannya secara terus terang namun tetap sopan dan menghargai suami dan mertua, saya rasa suami dapat membantu mbak agar tetap dapat bertahan ataupun memberi solusi yang baik.

Selain itu apakah mbak dan suami memang berencana untuk tinggal selamanya dengan mertua? Karena memang akan lebih sulit membangun rumah tangga mandiri yang sesuai dengan standard pribadi bila masih tinggal dengan orang tua. Bila memang belum berencana keluar dr rumah orang tua, maka memang Mbak yang perlu banyak beradaptasi karena kita sulit mengharapkan perubahan dari diri orang lain.

Semoga membantu.

Salam,

Psikologi Kita

Kategori: 

Komentar

sy pernah tinggal 1 rmh bersama ibu mertua dan ipar,sy tinggal dsitu krn ayah mertua sy meninggal.selama krg lbh 1thn tinggal bersama dan bnyk konflik..ibu mertua dan ipar sy suka saingan iri sm sy dan berebut perhatian thd suami sy..kalau sy pergi berdua mrk suka ngambek dan bisa 2 hari sy didiamkan..selama drmh itu dy semaksimal mgkn membantu pekerjaan ibu mertua sy spt memasak dan menyiapkan makan pagi,siang,mlm..lama2 sy merasa dmanfaatkan krn ipar sy tinggal mkn dan kalau mkn diluar tdk pernah inisiatif gantian byr.scr tdk lgs ibu mertua sy mengatur rmh tgg sy dan suka menyindir kalau menyampaikan sesuatu.intinya sy tdk nyaman tinggal 1 rmh dan tdk memiliki pilihan dan kebebasan sendiri.suami sy jg ga bs ambil keputusan dmg alasan ortunya tinggal 1.alhamdulillah sy bs tinggal diluar kota krn suami sy pindah tgs.tp ibu mertua sy sll mencari perhatian dan mengeluh mencari perhatian suami.hal kecil jd bsr.suami sy sll dibebani bhw hrs tgg jwb yhd ibunya,sdgkan mertua sy lbh perhatian kpd klrg ipar.ibu mertua sy sll menyudutkan seorg istri mll broadcast yg dkirim k suami.sy tau banget siapa dia dan bgmn mertua sy pintar mengkondisikan sesuatu dlm segi apapun yg ga bs sy uraikan dsini krn pasti panjang.sy merasa trauma tetingat2 masa lalu dan tingkahnya yg ga pernah berubah dan sy memutuskan utk tidak intens lg spt dl krn perkataannya sll menyakitkan hati.sy menjaga jarak krn sy mau melindungi hati dan perasaan sy,biar suami sy yg berhub dng mertua.sy cm mau tenang dan bisa fokus urus klrg sy,tp kelakuannya menghantui sy sampai saat ini.

Avatar Sarwendah Indrarani

Halo mbak Rania.. 

Hal yang mbak lakukan sudah tepat, fokus pada keluarga sendiri. Hal yang mbak perlu lakukan adalah tetap menghargai mertua dan keluarga suami. Karena tanpa mereka, suami mbak tidak bisa seperti saat ini. Tidak perlu memperkeruh suasana dengan menjelek-jelekan keluarga suami. Pahami dan maafkan kelakuan ibu mertua karena bisa jadi setelah ayah mertua meninggal, ibu mertua tidak mendapatkan lagi perhatian yang ia inginkan. Semoga seiring bertambahnya waktu, mbak rania bisa lebih tenang dalam menjalani pernikahan.

Salam

Psikologi Kita   

Kalau Ibu2 lain bermasalah dengan mertua, saya malah bermasalah dengan ibu saya sendiri. Saya dan suami baru menikah selama 4 tahun dan belum dikaruniai anak. Karena saya anak tunggal, saya harus tinggal dengan orang tua saya. Ibu saya adalah ibu yang super sensitif dan selalu meminta perhatian berlebihan. Dia jauh dari independen dan semua bergantung pada saya. Saya sebenarnya senang2 saja melakukannya, apalagi ini kesempatan untuk membalas budi orang tua. Namun, sifat sensitif dan temperamental ibu saya sangat mempengaruhi kehidupan saya, bahkan bisnis yang saya jalani. Sehari-hari, saya selalu hidup dalam ketakutan, bahkan dalam beberapa situasi, ketika ibu saya marah kepada suami saya, saya merasa hidup saya hancur dan saya bisa terkena depresi sampai 2 minggu seperti saat ini. Saya sudah sangat sangat lelah hidup dalam ketakutan terhadap ibu saya seperti ini. Saya sudah tidak bisa bicara atau diskusi dengannya karena dia yang selalu menang, dia tidak pernah salah dan dia selalu merasa menjadi korban. Ibu saya adalah orang tua yang sangat otoriter dan ingin mengontrol semua kehidupan saya. Ibu saya adalah orang yang paling saya takuti di dunia. Ketika di luar rumah, melihat ada WhatsApp darinya saja sudah cukup membuat saya panas dingin karena takut ada sesuatu hal yang tidak berkenan di hatinya. Saya ingin sekali tinggal di luar rumah dan bebas, seperti yang saya rasakan ketika kami (saya + suami) tugas di luar kota dan tinggal di hotel, saya selalu merasa bisa menjadi diri saya sendiri, dan saya selalu sedih ketika harus pulang karena berarti harus ke tempat neraka, berhadapan dengan ibu saya, hidup dalam ketakutan konstan. Saya tidak pernah merasa 'home sweet home' dan saya tidak pernah merasa damai dekat dengan ibu saya. Tolong berikan masukan, Ibu. Sampai kapan lagi saya harus seperti ini? Saya sudah super lelah dan ingin mengubah hidup saya, ingin mendapatkan hak saya untuk hidup damai. 

saya menikah sudah 10 thn tinggal di rumah mertua bersama istri saya dan di karuniain anak 2 umur 9 tahun dan umur 3 thn terjadi percekcokan dengan istri .bapak mertua seorang ustad tidak bisa cari calan solusi yg terbaik malah memojokan mantu nya.....

ebelum menikah dgn suami, kita sepakat untuk tinggal di rumah yg dimiliki orang tua suami (beda rumah), saat itu saya merasa senang krn saya berfikir nanti setelah menikah sudah memiliki rumah sendiri, lalu rumah tersebut direnovasi oleh ibu saya dgn memakai uang kotak saat pernikahan, banyak yg direnov, krn ibu sayapun senang ketika tahu anaknya sudah punya rumah. tapi ternyata masalah justru datang, ketika mertua saya memegang juga kunci rumah tersebut, dgn alasan agar bisa istirahat sepulang kantor, karena kantor mertua dekat dgn rumah itu, awalnya saya mengganjal dgn beliau pegang kunci rumah juga, tp saya tetap berfikir positive thinking, namun semakin lama saya semakin aneh dgn sikap mertua saya, mertua saya suka menginap di rumah itu walaupun saya dan suami tidak ada di rumah, krn sudah 2 bulan ini saya hamil jd mengharuskan saya tinggal di rumah ibu saya yg dekat dengan kantor saya. mertua saya suka menginap dan sangat leluasa di rumah itu, seperti barang2 saya ditaruh bukan seperti yg biasa saya taruh, atau menggeser bentuk ruang tamu, masak mencuci di rumah sangat leluasa, seperti rumahnya sendiri, saya seperti menumpang dan tidak punya privasi, dan sempat terbesit penyesalan soal renovasi rumah itu pakai uang ibu saya, saya jd menyesal knp saya tidak mengontrak saja, drpd harus kesal setiap ibu mertua pulang dr menginap krn ada saja yg berubah dr rumah itu. dan ketika membahasa dengan suami pun, suami beranggapan kalau saya tidak sayang dengan ibunya, pdhl saya hanya butuh privasi di rumah yg katanya saya boleh tempati. kalau memang rumah tersebut sudah diizinkan untuk kami tempati, saya hanya butuh privasi saja, dan mertua saya tidak seharusnya ikut campur terlalu dalam. sebaiknya saya harus bagaimana ya?

Saya menikah sudah 4th,saya sudh punya anak 1 umur 2th.kenapa istri saya selalu menolak dan males malesan kalow di ajak maein ke rumah mertua.alesan kenapa?terimakasih

siang semua,sy sudah menikah 5 thun,tp kenapa hubungan sy dengan mertua selalu dingin...sy akui mertua sy baik,tpi dia sangat pelit..gimana cara nya sy bisa merubah sifat pelit nya..terutama yg sering alami. waktu itu sy dan suami lg bener2 ga punya duit sama sekali,dan akhir nya kita komit untuk pinjam ke ibu nya suami yaitu mertua sy,sy cuma pinjam 100 rb,,ga lebih,dan uang itu bakal di ganti setelah suami sy gajian,tp mertua sy ga kasih pinjaman ke sy.alasan nya dia ga punya uang,,tp menurut sy ga mungkin dia ga punya uang,sedangkan mertua sy itu bisa di bilang bandar kontrakan,,sakit perasaan sya.......trs wktu lebaran anak sy ga di persen sama nenek nya,padahal cucu yg lain di persen walaupun kecil jumlah nya,,tp sy berusaha sabar,sy cuma bisa nangis ,nangis dan nangis,,kenpa mertua sya sangat pelit...padahal sy klo punya rezeki ga pelit mau nya ngebahagiain semua org ,,,semoga rezeki terus megalir buat sy dan suami,sehingga kami tidak merasakan sakit hati,,

Hy mba saya ica , saya baru 4 tahun menikah dan mempunya 1 anak , smenjak saya hamil dan smpai saya melahirkan mertua saya tidak pernah datang ke rumah saya untuk melihat anak saya , dengan alasan ekonomi .. Smpai ahirnya saya merasa masa untuk melihat cucu nya tidak ada usaha sdkit pun untuk datang d saat saya nujubulan atau melahirkan ? Ahirnya saya mengalah dan saya yg datang membawa anak saya yg baru berumur 3 bulan ke ruma mertua saya ,, dan stelah itu tidak lama kmudian anak saya di rawat dan mertua saya baru dAtang untuk melihat anak saya . Apakah mertua saya hNya datang ketika anak saya sakit ????? Pdhal saya hanya ingin satu hal saya hanya ingin mertua saya ingat dan bsa brusaha untuk anak saya , tidak selalu mengandalkan org tua saya .. Karna saya ckup malu kpada org tua saya yg blang mertua saya tdk prnah ingat kpada anak saya . Apakah salah skrg saya tidak trlalu perduli trhadap mertua saya ? Dan yg ada hanyalah sKit hati trhadap mertua saya ? Apa saya salah ?

Saya sudah 3 rahun menikah sekrng di karunia ank usia 2 tahun.saya awalnya menikah tinggal ngontkrak bersma suami.rumah tangga kami baik saja..tidak ada maslah saya dan mertu seprti ank dan ibu..tp setelah hamil posisi saya waktu masih kerja.usia 9 bulan sya cuti dan harua melahorkan di rumah mertua.dan syaph pulanh k rumah mertua berharap ada orng mengurus karna kelurga sya orng luar pula..setelah melahirkan bahagia karna sya bisa ngasih kebahagiaan buat kelaurga suami saya..setelah beberah hri sya di rumah mertua.malam itu saya pinjam hp suami sya tanpa sepengefahuanya syapu kaget ternyata suami sya selingkuh.skit rasanya.dan pun marah dangat marh apa yg saya berikam buatnya di blz seprti ni.sya udh kehilngn pekerjaan demi ngurus ank.waktu itu sya g bsa temuiselingkuhan suami sya untuk mau bicara hati k hati.sya surh mertua sya pergi.bukan bawa kabr baik malah mertua sya lebih memuji selingkuhanya.saya tambh skit rsanya...setlh kejadian itu sya jadi orng yng sensitif saya marh..di tambh ibu mertua sya sllu tuntuk untuk ngikut ada merka.sya pu tambh stress.smpao sekrng mertu sya sllu ikt campur.apa yng sya lakukan sllu laporan k anaknya dan menjadi pimicu kami tengkr...sya rencan mau pergi pulang k kampung .dan g mau kembli.karna sma mertua sya menggap dri sya ni sllu slah.udh sya jdi bhan di jelekin.tolng saranya apa sya harus meningglkn suami sya.karna suami ya juga di ajk ngontrk g.ttp ngoto tinggl bersma orng tuanya.mohon saranya.

Saya sudh 6 thn menikah. Pada awal menikah saya sudh mrasa tidak senang dgn org tua suami,yang suka mengatur. Kmi tidak tinggal serumah, kmi di kota dan mrka di kampung. Yang membuat saya tidak senang, setiap kali suami datang dari kampung, suami marah-marah pada saya. Baru menikah, mertua sudah punya permintaan yang dipaksakan, pdhl kmi punya tv saja belum. Yang paling saya tidak senang krn mereka kdang memaksakan kepercayaan mrka, dmana mrk masih memegang kepercayaan dulu, yg bertentangan dengan agama saya. Ktka saya ke kampung mrka, ada kluarga mrk yg mengatakan kalau saya sombong, krn sy tidak pernh ke kampung. Pdhl itu bukan salah saya, krn mertua saya belum membuat acara,, yang dia janjikan ke keluarga kmi,,sbagai adat istiadat mnerima mantu datang. Mertua laki-laki yang hobi brbicara sana-sini, kalau bsa dikatakan, bicara dilebih2kan,bicara tentang hartanya. Saya paling tidk senang dia bicara harta ke kluarga saya, krn blum tentu org lain puny harta jg, atau ketika org lain harta mrk lbh banyak, dia menjadi sakit hati. Saya plg tidak senang ke rumah mrk, krn semua tempat berantakan, tidak pada tempatny. Suami sy bilang, kmu z yang rapikan, tpi kalau sya yg rapikan, mgk sy buang ke bak sampah. Saya kasihan kdg melihat mertua perempuan yg lbih banyak bekerja, sedangkan yg laki2 sukany ngobrol nda karuan. Sy malas ngomong ma mertua laki2, karna saya pernah bicara,tpi dihambarkanny bicara saya. Dia bilang ke org lain, kalau saya tidk bisa bercanda. Pdhl itu karna saya sudah kecewa melihat sikapny, yang suka menjelek2an menantuny, baik saya maupun istri ipar saya, dibelakang kmi. Kadabg saking jengkelny,, saya bisa terbangun dari tidur, knr mimpi mereka. Andai saja suami saya bisa mengerti apa yang saya rasakan, tpi biasany suami akan marah dan tidak mau mengerti. Kakak saya bilang, untung kamu kerja seandainy kamu tidak pns, mgk mereka akan lebih menginjak kamu. Saya tidak mau terlalu dekat dengan mereka lagi, krn saya tidak mau tuntutan mereka brtmbah. Tolong sarannya,bu.

Saya sudh 6 thn menikah. Pada awal menikah saya sudh mrasa tidak senang dgn org tua suami,yang suka mengatur. Kmi tidak tinggal serumah, kmi di kota dan mrka di kampung. Yang membuat saya tidak senang, setiap kali suami datang dari kampung, suami marah-marah pada saya. Baru menikah, mertua sudah punya permintaan yang dipaksakan, pdhl kmi punya tv saja belum. Yang paling saya tidak senang krn mereka kdang memaksakan kepercayaan mrka, dmana mrk masih memegang kepercayaan dulu, yg bertentangan dengan agama saya. Ktka saya ke kampung mrka, ada kluarga mrk yg mengatakan kalau saya sombong, krn sy tidak pernh ke kampung. Pdhl itu bukan salah saya, krn mertua saya belum membuat acara,, yang dia janjikan ke keluarga kmi,,sbagai adat istiadat mnerima mantu datang. Mertua laki-laki yang hobi brbicara sana-sini, kalau bsa dikatakan, bicara dilebih2kan,bicara tentang hartanya. Saya paling tidk senang dia bicara harta ke kluarga saya, krn blum tentu org lain puny harta jg, atau ketika org lain harta mrk lbh banyak, dia menjadi sakit hati. Saya plg tidak senang ke rumah mrk, krn semua tempat berantakan, tidak pada tempatny. Suami sy bilang, kmu z yang rapikan, tpi kalau sya yg rapikan, mgk sy buang ke bak sampah. Saya kasihan kdg melihat mertua perempuan yg lbih banyak bekerja, sedangkan yg laki2 sukany ngobrol nda karuan. Sy malas ngomong ma mertua laki2, karna saya pernah bicara,tpi dihambarkanny bicara saya. Dia bilang ke org lain, kalau saya tidk bisa bercanda. Pdhl itu karna saya sudah kecewa melihat sikapny, yang suka menjelek2an menantuny, baik saya maupun istri ipar saya, dibelakang kmi. Kadabg saking jengkelny,, saya bisa terbangun dari tidur, knr mimpi mereka. Andai saja suami saya bisa mengerti apa yang saya rasakan, tpi biasany suami akan marah dan tidak mau mengerti. Kakak saya bilang, untung kamu kerja seandainy kamu tidak pns, mgk mereka akan lebih menginjak kamu. Saya tidak mau terlalu dekat dengan mereka lagi, krn saya tidak mau tuntutan mereka brtmbah. Tolong sarannya,bu.

Yh sabar saja,sm saya jg dulu pernh mengalaminya,mending mertua mba orng jwa,yh sy mertuanya orng betawi bawelnya minta ampun,tuh klo pgn apa2 tu pastnya nyuruh saya,ap2 jg saya gt,biar sy udh misah sekalipun nyuruhny sya trs,bkn kpla sy nyut2tn,pdhl dia pnya 2 ank prmpuan,pdhl 2 ank prmpuany jauh lebih tua umrnya dr pd sya,yh otomatskn dh dwsa,mntng2 sy kk ipar,tp brumur muda,yh gt dh pkony yg mersa klo tnggl drmh mrtua tu ky gmn,klo di ceritain mah panjang bangt,mkny mendign jauh tu harum,dr pd dkt tp bau nya sprti tai,tu pepathny

Assalamualaikum,, Mba mohon pencerahan nya, saya suka cemburu kalau calon suami suka mendahulukan orang tuanya, saya khawatir akan berdampak sampai nanti pernikahan.. apakah rasa cemburu ini perlu dirubah atau memang rasa defense yang harus saya miliki? Saya paling tidak suka calon mertua saya mengandalkan calon suami saya saja padahal anak2nya masih ada 3 lagi, sedangkan di lain sisi keluarga saya tidak pernah ganggu/pengen ikut2an dalam hubungan kami .. sebagai calon istri dan menantu apa yang harus saya lakukan?  Apakah semua yang saya rasakan ini salah atau memang wajar ya bu? apakah harus saya rubah/hilangkan rasa tidak nyaman ini?  Atas perhatian dan saran nya saya ucapkan terima kasih.

saya menikah 3,5 thn. anak kami skrg usia 1 thn. tinggal terpisah dg orang tua. tp waktu tempuh ke rumah mertua hny sktr 1 jam, ini cukup dekat mnrt saya krn org tua kandung saya tinggal lebih jauh dan memerlukan waktu sktr 6 jam unt perjalanan kesana. terpisah dg mertua tdk lantas membuat hubungan yg tanpa masalah. dari awal menikah saya sdh membaca kalau mertua terlalu memanjakan suami. hingga skrg pun beberapa kebutuhan rumah tangga sering diberi. orang lain melihatnya mgkn iri. rumah yg skrg kami tinggali pun diberi oleh mertua. tp tdk dg saya. saya lbh suka hidup mandiri. prnh berbicara lgsng k mertua. tp mertua tdk ingin dibatasi ketika ingin mmbrkn sesuatu unt kami atau anak kami. hal ini brtmbh parah saat anak saya lahir. perhatiannya sngt berlebihan. bnyk sekali barang dan uang yg diberi. seminggu sekali pasti datang ke rumah unt menengok si kecil. dan disinilah ketidakcocokan kami bnyk terlihat. mulai dr cara merawat si kecil, urusan dapur, pekerjaan, masa depan. hampir semua disinggung dg bahasa sindiran. kalau mertua di rumah, pekerjaan rumah apapun langsung dikerjakan tanpa saya minta. saya justru merasa sgt tdk nyaman. sepertinya hal itu dilakukan unt menyindir. krn di belakang saya, beliau membicarakan kalau saya tdk bisa memasak, tdk suka beres2 rumah. pdhl saya bukan ny tdk mengerjakan. tp hny kalah cepat unt menyelesaikan. ditambah saya juga harus mengutamakan anak saya ketimbang pekerjaan rumah. keluhan saya ini selalu saya sampaikan ke suami. suami jg tdk suka dg sikap ibu nya. bahkan suami mengatakan kalau kakak nya jg tdk suka karena memang suka menjelek jelekan orang lain dan meremehkan. tp hal ini tdk pernah disampaikan ke ibu nya. krn menurutnya ibu nya tdk akan berubah meskipun hal tsb disampaikan krn ibu ny tipe orang yg selalu menganggap dirinya paling benar dan tidak pernah menyakiti orang lain. apa yg harus saya lakukan unt mengatasi rasa kecewa ini? saat ini saya tdk hny kecewa tp mulai merasa benci.

saya pun juga ikut mertua.saya menikah sudah 2th.di karunia

Assalamualaikum
Saya ibu rumah tangga, sebelum menikah saya bekerja di perusahaan bumn. Usia pernikahan saya 5 th. Suami saya adalah orang berkecukupan dan sangat berbeda jauh dengan kondisi keluarga saya yang pas pasan.dan semenjak saya menikah, saya ikut dengan suami yang kehidupan serba mewah.
Akan tetapi suami saya agak tertutup atau menghindar kalo kedatangan tamu dari kekuarga saya ataupun orang tua saya, dia lbh memilih berdiam diri di kamar dengan tidak menenmani tamu (keluarga saya) saya selalu mengalah akan hal ini, menutupi dari keluarga saya bahwa suami sibu atau apalah. Dan lebaran tahun ini dirumah saya ditempati acara halal bihalal dari keluarga saya, ya alloh mungkin ini ujian, semya persiapab saya seorang diri yang menyiapkan tanpa ada bantuan. Termasuj art lg pulkam. Dan ketika d tanya salah satu kerabat, ada acara apa?? Si suami menjawab bukan acaraku. Astagfirulloh. Begitu sakut mendengarnya.. usai acara orang tua dan kakak adikpun tak berani meminta tolong suamiku untuk mengantar ke terminal(tidak mau merepotkan)

Selama ini memang sdh menjadi kebiasaab suamu seperti itu, kurang merhargai keluarga dari saya. Saya serba bingung, kewajiban istri menghormatu suami, orang tuapun wajib kita hormati. Subhanalloh.

Menikah Hampir 1 Tahun Sebulan lagi setahun nya pernikahan saya dengan suami..Alhamdulillah saya sudah dikaruniakan dan dipercayakan oleh Allah SWT,seorang anak perempuan..Seorang Cucu pertama di keluarga besar saya..Saya anak ke 3 dari 4 bersaudara..Suami saya bungsu dari 2 bersaudara..Saat ini saya tinggal bersama mertua sejak menikah,,karna ibu mertua dan bapak hanya tinggal berdua saja,bila suami pergi dari rumah mereka..Karna kakak (Abang Suami) tinggal di kalimantan dengan istri disana..Jadi sebelum kami menikah ibu mertua meminta saya untuk tinggal bersama dengan mereka..Permasalahan muncul ketika awal pernikahan,,karna kurang nya biaya pernikahan..Kami berdua bekerja di perusahaan yang cukup baik sebetulnya..Kami pikir,,kami berdua bisa hidup bersama dengan digabungkan pendapatan kami berdua dan optimis bisa membeli kebutuhan bersama,,membangun keluarga yang bercukupan..Sempat berfikir untuk bisa membeli kendaraan (Mobil) untuk kami berdua..Inti nya saat waktu pernikahan hampir mendekat,,biaya masih kurang,, saya pun berfikir untuk meminjam uang ke bank untuk menutupi nya,,tanpa sepengetahuan suami saya saat ini dan berfikir nanti untuk pengembalian uang bisa dari hasil pesta,,namun ternyata itu tidak mencukupi untuk bisa memutarkan kembali..Dana yang diberikan oleh suami pun itu pas-pas'san,,sedangkan dari pihak keluarga saya berfikir suami akan memberi lebih kepada saya..Tapi alhamdulillah acara pernikahan kami bisa berjalan lancar dengan hutang sana sini tanpa sepengetahuan suami,,karna saya takut dia berfikir terlalu keras dan akan emosi bila memiliki banyak hutang..Dan setelah beberapa hari kemudian mulai saya merasa resah karna suami menanyakan berapa pendapatan yang kita terima dari para tamu..Sebetulnya yang di dapat tidak begitu banyak dan itu semua untuk menutupi kekurangan kemarin pinjaman dari yang dipinjam,,namun itu juga belum bisa bisa dibayarkan..Suami hanya berfikir kalau kita mendapat banyak dan tidak memiliki hutang,,memang itu salah saya yang mencoba menutupi dari dia dan bilang kalau kita memiliki dana yang lumayan untuk bisa membeli mobil seperti khayalan kami sebelum nya.,Suami pun dengan bersemangat untuk membeli mobil impiannya,,namun dana sebetulnya tidak ada lagi di tangan..Terpaksa saya berbohong kalau uang itu di pakai oleh orang tua saya untuk biaya hidup&biaya untuk transport buya(ayah saya) ke bali (ada perkerjaan sebagai fotografer setiap setahun sekali)..Orang tua saya tidak tahu menau soal uang yang saya bilang itu untuk membeli mobil..Saya pun dengan berani dan percaya diri bilang ke suami akan di ganti saat pulang dari sana..Padahal itu tidak mungkin,,saya merasa ketakutan dan stress sekali dimasa itu..Saya memutar otak bagaimana cara nya untuk mencari pinjaman kembali agar bisa menutupi kebohongan saya..Akhirnya saya memberanikan diri untuk bicara kepada ibu saya(ummi)..Betapa terkejutnya ummi saya tentang permasalahan saya ini..Sebagai ibu,,dia pun tidak mau melihat anak nya stress dan sedih,,dia pun mencari jalan untuk permasalahan saya,,,dia pinjamkan uang nya dan sisanya dari kerabat teman ummi tanpa sepengetahuan buya dan suami..Alhamdulillah uang itu sudah di tangan,,saya pun merasa sedikit lega,,itu juga terdapat uang mertua dari pinjaman..Sebetulnya mertua belum tahu kalau uang itu tidak ada dan belum tahu ada niat membeli mobil,,tapi karna suami bicara kalau dia ingin membeli mobil..Dan akhirnya mereka tahu,,sebetulnya kami masih ada cicilan juga motor yang belum lunas 2 bulan lagi..Maksud hati uang dari mertua itu untuk melunasi motor saja..Uang itu saya terima tanpa sepengetahuan suami,,niat nya akan saya kembalikan setelah saya mendapatkan uang 3bulan dari kantor saja..Akhirnya suami pun bisa mendapatkan mobil yang dia impikan,,tanpa dia tahu dari mana hasil jerih payah nya..Yang dia tahu itu dari uang pengembalian buya setelah pulang dari bali..Salah dan salah nya saya itu..Berfikir masalah akan teratasi namun ini menjadi bencana saya,,tidak lama kemudian mertua menanyakan terus-terus an uang yang dipinjamkan kapan akan dikembalikan..Saya mulai stress karna uang yang saya harapkan itu ternyata tidak turun-turun juga..Saya hampir gila,,Saya tidak mau pulang kerumah karna saya takut akan di marahi dan malu bila uang itu belum ada juga,,karna saya selalu bilang nanti dan nanti..Sampai-sampai saya jalan kaki dari kantor di jakarta kebon jeruk sampai ke tangerang melewati sepanjang jalan tol..Karna sangking takut nya saya sama suami dan mertua bila sampai rumah..Sudah hampir jam 12 malam saya masih belum memberanikan diri,,saya masih berkililing jalan tanpa tahu arah,,saya hanya merasa kan ketakutan yang hebat,,saat itu saya sedang mengandung dengan usia kandungan hampir 3 minggu lebih..Saya tidak memikirkan kandungan didalam,,jahat nya saya saat itu..Saya terus berjalan,,tidak makan tidak minum tanpa istirahat berjalan kaki dari jam 5 sore..Saya tidak berani melihat HP saya karna takut akan suami menanyakan saya dimana,,suami menelpon saya berkali-kali dan orang tua saya pun sama menanyakan saya ada dimana..Akhirnya saya pergi kerumah orang tua saya yang tidak jauh dari rumah mertua dengan isak tangis dan badan sudah lemah..tersungkur saya di depan pintu pagar,,saya pun di popoh oleh ogek(abang saya) dan buya saya dan kebetulan bapak mertua tiba bersamaan datang kerumah orang tua saya dan langsung mengkabari suami saya kalau saya sudah ada dirumah orang tua saya..Saat itu juga perasaan saya campur aduk,,binggung harus berkata apa,,saya hanya bisa menangis saja,,sampai saya tertidur dan pagi nya saya ijin tidak masuk kantor.. Suami masih belum tau permasalahan saya,,sampai akhirnya dia tahu juga kenapa saya begini..ternyata mertua cerita kesuami kalau saya meminjam uang mereka,,itu yang membuat saya stress & suami sempat marah kepada saya,,sampai akhirnya dia membujuk aya untuk pulang dan mencari jalan keluarnya..Namun saya masih malu sekali..Suami pun membayar nya dengan menyicil tiap bulan..permasalahan belum selesai lagi,,hutang saya belum lunas di kerabat teman ummi,,saya pun membayarnya dari gaji saya sendiri..Disini permasalahan kembali dengan mertua,,gaji saya dipertanyakan oleh mertua..Setahu saya gaji seorang istri itu menjadi hak istri dan mertua atau pun suami tidak berhak tahu..Namun karna suami sudah tahu,,saya biarkan saja..Tapi mertua terus ingin tahu gaji saya,,kemana saja gaji saya pergi nya..Saya sempat kesal karna ini bukan urusan dia,,mau kemana uang saya habiskan..toh dia selalu dapat jatah dari suami saya dan saya pun terkadang memberikan sesuatu dari gaji saya tanpa dia sadar dari mana dana yang dia dapat,,yang dia tahu dari anak nya saja bukan dari saya..Gaji saya itu sebagian untuk membayar hutang dengan mencicil melalui ummi saya,,saya hampir lupa memberikan ke orang tua saya sendiri..Karna apabila suami menanyakan juga,,kemana uang nya saya bilang uang jatah bulanan untuk ummi dan belanja saya,,sisa nya untuk bayar kartu kredit dan sedikit-dikit ongkos makan kita berdua.,Padahal ummi saya tidak pernah dapat jatah bulanan,,disini saya berbohong lagi..Anak macam apa saya ini,,berbohong membawa nama orang tua yang tidak tahu menahu..Tapi sebetulnya uang itu untuk membayar kesana sini..Sebetulnya suami juga tidak berhak tahu kemana dihabiskan..Suami saya pun tidak pernah memberi jatah ke orang tua saya,,kalau pun ingin mengasih selalu dari uang saya juga bukan dari dia..Gaji suami pun untuk membayar cicilan mobil dan KTA juga kartu kredit dan orang tua nya..Untuk saya hanya sekedar beli jajanan di indomaret saja..Dan disini mertua berfikir uang suami saya di habiskan untuk membayar hutang-hutang saya dan gaji saya dihabiskan untuk keluarga saya(ummi buya dan adik saya yang masih sekolah)apa saya salah bila membantu adik saya untuk biaya sekolahnya sekali-kali bila buya saya sedang kesusahan..Karna saya juga baru tahu kalau uang mobil yang saya terima itu juga hasil tabungan buya saya..Di situ saya miris dan sedih sekali,,tabungan masa tua orang tua saya,,saya ambil untuk membeli mobil impian suami saya..Saya marah dengan diri saya sendiri..Karna takut suami yang akan semarah-marahnya dengan saya dan mertua yang selalu berfikir uang anak nya dihabiskan begitu saja(menggangap saya boros dan lebih memperioritas kan keluarga ummi saya tanpa memikirkan keluarga saya sendiri yang kini sudah ada bayi 1 bulan,,tidak ingat menabung untuk masa depan kecil)Sebetulnya saya menanbung sedikit-sedikit juga bersama suami namun mertua masih berfikir negatif dan tampak nya dia tidak suka dengan keluarga kami (ummi) yang difikir mertua,,orang tua saya selalu memanfaatkan dan mengompori saya,,demi ALLAH sama sekali tidak seperti itu,,orang tua saya mengajarkan bagaimana menghormati orang tua dan mengajarkan tidak melawan,,saya terus mencoba bersabar dan menarik nafas agar perasaan saya hilang,,perasaan jengkel dan kesal karna orang tua saya di anggap tidak bisa mendidik anak-anaknya..Sakit rasa nya,,saya hanya bisa memendam dan tidak berani bicara dengan suami,,terkadang saya melepaskan cerita kepada ummi saya,,sebetulnya tidak boleh karna ini bukan urusan ummi saya..Ummi saya hanya menenangkan saya dengan sabar dan istighfar selalu jangan membentak/melawan kasar ke mertua,,ini cobaan buat kamu yang tinggal sama mertua..Karna disini saya juga tidak pernah masak dan menyuci baju..Karna saya bentrok dengan jam kantor,,sampai rumah saya pun sudah lelah..Dan sekarang ada baby ditambah..jadi mertua membantu untuk mengurus nya.,Namun disini saya kembali dibuat kesal karna seperti diberi jarak untuk keluarga saya (ummi buya dan saudara-saudara saya) baru  2 hari saja menginap dirumah orang tua saya,,tapi dia marah,,dengan alasan anak jangan ditinggal tidur nya bila malam hari dan tidak dikasih ASI saat tidur..Sebetulnya malam pertama,,si dede tidur dengan saya dengan ijin suami menginap dirumah orang tua,,namun sempat suami tidak mengijinkan saya ikut menginap karna dia tidak bisa tidur..Dan malam kedua itu saja saya tidak bersama si dede jadi dia tidur dengan ummi(umak aye/nenek) saya..Sebetulnya permintaan menginap itu atas permintaan saya kepada orang tua saya untuk meminta ijin ke suami supaya si dede bisa tidur dengan nyeyak tidak rewel tiap malam,,karna saya juga merasa pegal bila mengendong-gendong dede tiap malam yang susah tidurnya sampai subuh..Karna saya merasa si dede di ganggu oleh makhluk halus dan betul saja dia selalu rewel namun saat tidur di rumah orang tua,,sama sekali tidak rewel dan selalu tersenyum,,tidur nyenyak tanpa di ganggu..karna bila tidur dirumah mertua,,si dede rewel dan biar ga rewel maksudnya diberi bangle di setiap sudut,,seperti di kasur,,stroller,,lemari,,sempat kesal saya kenap mesti menggunakan itu,,sama sekali tidak memberikan penyelesaian sama sekali yang ada dia semakin rewel,,saya menilai sirik percaya seperti itu,,saya bukan mau bilang mertua saya seperti itu tapi itu salah saja caranya bagi saya..Buktinya dede anteng-anteng aja tidur disana,,karna keluarga saya selalu menyetel surat Al baqarah sudah cukup,,karna semua itu dari wahyu Allah,,minta pertolongan kepada Allah bukan kepada benda-benda seperti itu kata orang tua mengingatkan saya..Sebetulnya itu niat saya membawa menginap si dede tapi mertua berfikiran kalau saya tidak betah/saya mau menjauhkan dia dari si dede/apa lah takut si dede di didik tidak baik dari orang tua saya,,Astagfirullah al'adzim,,saya sampai berfikir jelek terus-terusan,,Namun suami menghibur saya dengan,,dia iri takut kasih sayang dede ke dia nanti kurang saat dede sudah besar,,sumpah demi allah tidak sempat berfikir begitu juga kali yaa..Saya di bilang ibu yang tidak mau tidur sama anak,,nanti anak tidak sayang sama ibu nya sendiri,,sayang nya cuma sayang sama ummi(umak aye nya)padahal anak seusia dia,,sebulan belum mengerti apa-apa,,yang dia tahu hanya kenyamanan saat tidur dan minum susu saja..Asal kasih sayang selalu ada dari sekitarnya,,dia juga tahu sendiri..Saya tidak pernah membeda-bedakan sama sekali,,si dede boleh tidur sama siapa saja..asal dia merasa nyaman saya sudah tersenyum lebar,,tapi kenapa mertua sama bisa berfikir seperti itu???!! Padahal saat bulan puasa si dede suka di bawa juga sama dia ke kamar nya untuk tidur sama dia,,saya tidak mempermasalahkannya..tapi kenapa dengan ummi saya dia mempermasalahkan seperti itu(cuma sehari loh padahal)saya binggung,,sakit hati jadi nya kalau terngiang-ngiang kata mertua..Apa beda nya coba??dia tidur juga sama dede terus si dede ntar ga sayang juga sama saya????? Mertua suka bilang didepan manis dibelakang beda lagi..Tolong kasih saran ke saya,,bagaimana cara mengatasi nya,,saya ga betah..saya mau menangis..        

assalamualaikum wr,wb. saya baru menikah selama 4 bulan dengan wanita yang saya cintai. dan sekarang saya masih tinggal seatap dengan mertua saya. karena sejak setelah pernikahan kami di minta untuk tinggal serumah dengan mertua dan apa daya karena sayapun belum punya pekerjaan tetap. janjinya saya bakal di kasih pekerjaan setelah setibanya di sini. tapi sampai sekarangpun janji tersebut blm ada. di tambah di rumah inipun saya seperti di anggap tidak berguna kerjaanya makan tidur. ya memang saya belum punya pekerjaan. dari awalpun saya tidak punya niat sedikitpun untuk mengemis pekerjaan kepada mereka. dan sekarang setiap kali ada masalah saya merasa saya tidak ada harga dirinya lagi di mata mereka. malahan ayah mertua saya ngomongnya sudah seperti tuhan, yang se akan akan membenarkan di dirinya sendiri maunya di ikuti jejaknya toh saya berfikir di dunia ini sifat manusia berbeda beda. dari awal pacaran sama istripun saya memang sudah tidak di restui entah ada apa sampai saya di giniin. saya gak tau lagi mau curhat sama istripun kasihan dia hanya bisa menangis, di saat saya butuh seseorang teman curhat mungkin saya hanya bisa curhat sesekali dengan ayah ibu kandung saya dan memang untuk ekonomi keluarga istri saya lebih di atas ekonominya jadi seakan akan keluarga saya gak ada nilainya di mata mereka. terusterang kalau saya laki laki gak ada tanggung jawab saya mungkin sudah tinggalkan istri saya.
sudah berkali kali saya cekcok sama ayah mertua yang ini salah lah itu salah lah. saya diam salah saya jawab salah jadi saya seakan akan salah semuanya sampai sampai saya bilang saya gk bisa kalau terus terusan seperti di tekan. mau cari pekerjaanpun gak bisa karena tekanan di rumah seperti ini. dan saya meminta mengajak istri saya ke tempat org tua saya.
tapi lagi lagi itikat baik saya di tolak mentah mentah dengan embel embel saya omongkosong katanya.
banyak perkataan mertua saya yang tidak pakai rem lagi membuat sakit hati saya.
saya pikir saya tidak bisa terus terusan berdiam seperti ini. dan saya sekarang memutuskan untuk pergi sementara meninggalkan istri saya untuk balik ke kota saya mencari pekerjaan di sana.
dan ternyata mertua saya sangat senang setelah tau saya mau pulang ke kota saya sendiri. dari pengelihatan saya sepertinya ada ketidak sukaan dari mertua terhadap saya dengan secara pelan pelan ingin memisahkan saya dengan istri saya.
mohon bantu saya. terimakasih wassalam...

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.